Pandemi Covid-19 Meningkat, Baiknya Hentikan Unjuk Rasa

Polisi Harus Bertindak Tegas

KAYUAGUNG, SuaraSumselNews | PANDEMI Covid-19 yang makin meningkat segala bentuk kerumunan termasuk aksi eksparlementer seperti unjuk rasa pantang untuk dibiarkan.

Semua pihak harus punya kepedulian untuk memutus mata ratai penularan virus mematikan itu. Meski virus corona nyatanya masih merajalela, beragam kerumunan yang sangat potensial menjadi sumber penularan, mssih saja terus dilakukan.

Terkini, sekelompok massa turun ke jalan dalam aksi mempertanyakan kinerja jajaran Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang disesalkan oleh banyak pihak.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia Ansori AK menyebut gerakan-gerakkan eksparlementer untuk mewujudkan tujuan politik oleh sekelompok orang pada momen pesta demokrasi pemilihan kepala desa tahun 2021 ini sesungguhnya membuang energi secara percuma.

Ansori AK pun menilai, lebih baik aksi semacam itu dihindari dalam situasi pandemi. “Ini rumit. Di satu sisi, demonstrasi dijamin konstitusi sementara di sisi lain kerumunan dilarang karena pandemi,” ujar Ansori AK, Selasa (6/7).

Ia berpendapat bahwa gerakan eksparlementer itu terjadi karena adanya kegagalan politik pemerintahan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Pangkalan Lampam dalam mengartikulasikan aspirasi sekelompok masyarakat. Namun, beberapa aksi jelas merupakan upaya pengkriminalisasian terhadap kelompok tertentu.

Hal senada, turut disampaikan oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia Alma, demonstrasi harus dilihat dari sisi regulatif, khususnya dalam masa pandemi. Kepolisian memiliki kewajiban menghalau aksi demi menegakkan regulasi penanganan pandemi yang lebih prioritas.

Namun, terang Alma, aparat kepolisian harus menjadi pihak yang pertama kali bersikap tegas terhadap kepentingan publik yang lebih besar dalam melindungi masyarakat dari wabah pandemi Covid-19.

Menurutnya, aksi unjukrasa akan mematik penularan korona. Setidaknya ada beberapa orang kedapatan reaktif Covid-19 dalam setiap aksi unjuk rasa di Indonesia. Ini membuktikan, bahwa kegiatan kerumunan akan menimbulkan klaster baru,” ungkapnya.(*)
laporan ; adeni andriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *