Empat Strategi SKK Migas Sumbagsel Memenuhi Kebutuhan Energi Nasional

Tantangan SKK Migas Menaikkan BOPD di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan sendi kehidupan sosial di masyarakat, hal ini juga berdampak pada industri minyak dan gas bumi dimana Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) harus memutar otak untuk mempertahankan ketahanan energi nasional.

PALEMBANG, SuaraSumselNews | SKK Migas Perwakilan Sumbagsel dalam menghadapi pandemi Covid-19 tahun ke 2 ini, tentu banyak tantangan yang harus di lalui. Ada dua tantangan utama untuk wilayah Sumbagsel yang dihadapi KKKS saat ini, yaitu keekonomian investasi dan kendala operasional nonteknis.

“Untuk kendala operasional non teknis, Pemerintah telah menetapkan bahwa industri energi merupakan sektor kritikal yang tetap harus dapat berjalan dalam mengemban tanggung jawabnya dalam memenuhi ketahanan energi, SKK Migas bersama KKKS secara pro aktif bekerja keras untuk memitigasi potensi permasalahan terkait hal ini bersama pemerintah daerah,” jelas Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Anggono Mahendrawan.

Pekerja KKKS PT Medco E&P Rimau melakukan kegiatan pengawasan salah satu lapangan pengeboran.

Menurutnya, dari sisi keekonomian investasi, tentunya hal pertama yang dilakukan adalah efisiensi biaya dan menjaga cash flow dimasa sulit seperti ini. SKK Migas telah menjalankan program efisiensi biaya dan optimalisasi program kerja dan anggaran yang dilakukan bersama dengan KKKS.

Kedua, menyiapkan ketersediaan anggaran untuk penanganan covid-19. Menerapkan protokol kesehatan yang ketat di lingkungan kerja sesuai arahan pemerintah, 6 M (mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menciptakan situasi dan kondisi bekerja yang menghindari kerumunan, mandi sesering mungkin dan menghindari makan bersama).

“Melakukan tracing rutin bagi semua pekerja. Partisipasi dalam kegiatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah baik ditingkat Kab/Kota, Provinsi dan pusat. Menerapkan konsep kerja 25 % pekerja di kegiatan perkantoran dan 75 % WFH setiap minggu serta mengutamakan semua kegiatan yang bersifat pertemuan dilaksanakan secara online. Selain itu kami juga mewajibkan seluruh pekerja melakukan rangkaian karantina dan uji usap sebelum memasuki atau meninggalkan wilayah operasi dengan tata waktu tertentu,” bebernya.

Empat Strategi Utama SKK Migas Sumbagsel

Menurut Anggono, cara SKK Migas dalam menaikkan hasil migas di Sumbagsel, ada empat point yang harus dilakukan dengan menjaga produksi agar dapat meningkat di wilayah Sumbagsel.

1. Mempertahankan level produksi saat ini melalui optimasi produksi pada lapangan eksisting. Pelaksanaan program kerja yang agresif, masif serta efektif dan efisien, sebagaimana hal ini dilakukan serentak di seluruh wilayah kerja hulu migas, maka wilayah kerja Sumbagsel juga melaksanakannya, dan upaya-upaya lain yang dilakukan dalam beberapa waktu ke depan.

Alat pengeboran minyak dan gas bumi di lapangan.

Selain itu, ada beberapa KKKS yang berakhir kontrak kerja samanya. “Kami akan turut mengawal proses transisi wilayah kerja atau alih kelolanya agar dapat berjalan lancar, serta upaya-upaya reaktivasi lapangan untuk dapat berproduksi kembali, sehingga semua upaya tersebut menjadi kunci untuk menahan laju penurunan produksi alamiah di berbagai lapangan migas dengan kondisi mature/brownfield,” ungkapnya.

2. Dengan melalui pengawasan dan pengendalian yang baik terhadap pelaksanaan kegiatan operasi KKKS di wilayah Sumbagsel;
3. Percepatan penerapan pemroduksian tahap lanjut, baik tahap secondary maupun tahapan tertiary recovery yang diharapkan dapat memberikan kontribusi tambahan produksi minyak bumi nasional dengan bekerja sama dengan pihak lain yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam pengembangan dan penerapan teknologi yang sesuai dengan karakter lapangan migas di KKKS;
4. Melaksanakan eksplorasi yang masif, karena eksplorasi ini juga merupakan hal yang mutlak diperlukan saat ini untuk mencari cadangan baru;

Dongkrak Hasil Migas

Apa yang dilakukan SKK Migas terhadap KKKS untuk mendongrak hasil migas terutama di Sumsel, tentunya SKK Migas terus mendongkrak dengan perbaikan tata kelola hulu migas.

“Kami akan terus mendorong agar KKKS melakukan perbaikan tata kelola hulu migas agar lebih efisien dan efektif, serta meningkatkan jalinan komunikasi yang humanis dengan pemangku kepentingan di daerah untuk mendapatkan dukungan besar dari semua pemangku kepentingan kami di daerah,” papar Anggono.

Target Tahun 2021

Untuk target tahun ini, SKK Migas Sumbagsel bersama-sama seluruh KKKS beserta pemangku kepentingan untuk mewujudkan rencana kerja yang agresif pada tahun 2021 untuk mengawal pencapaian target yang ditetapkan pemerintah, sekaligus mengawal pencapaian target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan gas 12 milyar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.

Berdasarkan hasil Work, Program & Budget (WP&B) 2021 yang ditetapkan, SKK Migas berusaha mengawal agar realisasi lifting tahun 2021 dapat di atas 705 ribu BOPD untuk minyak dan 5.638 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk gas, itu merupakan angka nasional yang menjadi target industri hulu migas tahun ini.

”Kami di perwakilan Sumbagsel akan mendukung dan mengusahakan agar KKKS di wilayah Sumbagsel dapat berkontribusi sesuai dengan target yang ditetapkan kepada masing-masing KKKS di wilayah kami. Tentunya peran dan bantuan dari seluruh pemangku kepentingan di wilayah Sumbagsel juga sangat berpengaruh sehingga target ini dapat dicapai untuk menjaga ketahanan energi kita,” jelas Anggono Mahendrawan, yang baru menjabat Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel ini.

Medco E&P Terus Jaga Ketahanan Energi di Masa Pandemi

Salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yakni PT Medco E&P Indonesia (Medco E&P), sebagai badan usaha tetap yang diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 dan merupakan salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama pemerintah Republik Indonesia dalam pengelolaan minyak dan gas bumi yang diawasi oleh SKK Migas.

Melalui Peraturan Menteri Kesehatan No.9 Tahun 2020, tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease di Indonesia.

General Manager of South Sumatra Region Medco E&P Indonesia, Muhammad Zulkifli.

Namun disisi lain, kegiatan hulu migas harus tetap berjalan selama pandemi COVID-19 untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

General Manager of South Sumatra Region Medco E&P Indonesia, Muhammad Zulkifli mengatakan bahwa dampak pandemi tentu membuat Medco E&P berusaha keras agar operasi dilapangan tidak terganggu, berbagai upaya dilakukan untuk menekan penyebaran COVID-19 dan sekaligus membuat operasi di lapangan berjalan dengan normal.

“Dengan protokol sangat ketat, pengurangan aktivitas, memastikan pekerja di lapangan tetap sehat dan penerapan protokol kesehatan di terapkan dengan sangat ketat,” jelasnya.

Perusahaan telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan kesehatan Pekerja dan Kontraktor dengan melakukan isolasi mandiri, karantina kedua di tempat yang ditetapkan Perusahaan dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) secara rutin sebelum bertugas, melaksanakan Protokol Kesehatan dengan ketat selama bertugas.

Sesuai protokol pencegahan COVID-19 dari Pemerintah, Perusahaan juga melaksanakan proses pemantauan, memeriksa suhu tubuh di setiap entry-point serta mewajibkan pekerja melakukan karantina dan observasi mandiri di rumah saat tidak bertugas.

“Pekerja secara bertahap mendukung akselerasi vaksinasi COVID-19,” tegasnya.

Memberikan Multiplier Effect Bagi Masyarakat

Medco E&P Indonesia (Medco E&P) dalam kiprahnya di Sumatera Selatan terus berupaya memenuhi target produksi minyak dan gas bumi (migas) dari Pemerintah.

Sejalan dengan aktivitas tersebut, di masa pandemi saat ini, perusahaan tetap berkomitmen meningkatkan kualitas dan kuantitas program pemberdayaan masyarakat di wilayah operasi.     

Officer Community Relation & Enhancement South Sumatra Region, Robby Wijaya, mengatakan bahwa untuk membangun komunitas dengan penghidupan lebih baik. Medco E&P melakukan program budidaya jamur dan Budidaya Madu Lebah Hutan dan Karet Organik di tengah masyarakat untuk membantu perekonomian mereka.

“Untuk budidaya jamur sudah sejak 2017 di Desa Lais Musi Banyuasin, ini kami kembangkan dengan melihat banyaknya kebun sawit dan melimpahnya tandan kosong sawit. Karena didukung dengan banyaknya permintaan jamur, budidaya ini sudah mampu memproduksi 200 kg perbulan dengan pendapatan 4 juta perbulannya,” bebernya.

Budidaya jamur di Simpang Kerang Dusun 5 Desa Lais Kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin.

Robby mengatakan bahwa di masa pandemi COVID-19, komitemen perusahaan tidak mengendur, karena di masa pandemi inilah masyarakat butuh perhatian.

“Kami tetap bekerja, namun ada perubahan dalam tingkah laku. Pastikan dulu tubuh kita sehat sebelum bertemu dengan masyarakat dan ada protokol tertentu yang kami jalani,” jelasnya.

Pesan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilisasi dan interaksi serta hindari kerumunan (5M) disampaikan kepada masyarakat sekitar.

“Jadi, ini kita sosialsisaikan dan kami jadikan budidaya baru di masayarakat dan pekerja-pekerja di perusahaan,” tutupnya.

Penulis : M. Asri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.