Derita Warga Arisan Buntal, Dibalik Proyek Tol Sumatera

Terkait Gugatan Putusan PN Kayuagung Setahun Lalu

KAYUAGUNG, SuaraSumselNews | MASIH teringat masalah tahun lalu?
Ya, 25 orang warga Desa Arisan Buntal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), telah mengajukan gugatan menuntut keadilan di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung OKI Sumsel.

Bahwa tuntutan berisi permintaan penggantian kerugian atas banyak matinya tanaman buah tahunan, berupa pohon dulu, durian, rambutan dan lainnya. Hal itu dampak dari pembangunan Jalan Toll Kayuagung — -Pematang Panggang OKI Sumsel, oleh PT Waskita Karya dan PT Hutama Karya (BUMN).

Kuasa hukum dari 25 warga Desa Arisan Buntal, H. Rusli Bastari, SH dan rekan, kepada media ini mengatakan, kita merasa terpanggil untuk membantu warga Desa Arisan Buntal OKI. Setelah kami melihat kondisi mereka benar-benar mengalami kerugian matinya tanaman buah tahunan mereka.
Itu semua terdampak dari adanya pembangunan Jalan Tol Kayuagung- — Pematang Panggang Sumsel.

Lebih lanjut, H Rusli Bestari, proses tuntutan dijalani sesuarosudur hukum yang berlaku. Dua nomor perkara terdaftar di PN Kayuagung masing-masing Nomor 01/Pdt.G/2020/PN KAG dan Nomor 04/Pdt.G/2020/PN KAG.

Bahwa proses berjalan hingga akhir tahun 2020, dengan putusan PN Kayuagung dan sebagai Ketuanya Eddy Daulatta S, SH, MH yang sangat mengejutkan, menolak semua tuntutan warga tanpa ampun dan tanpa perikemanusiaan.

Pengamatan saat itu diluar sidang warga ada yang menangis sedih dan menyesalkan sikap Ketua PN Kayu agung yang menolak tuntutan mereka. Menurut warga, Ihsan, jika saja Ketua PN Kayuagung, Eddy Daulatta memiliki rasa kemanusiaan pastilah paling tidak 50% tuntutan warga dikabulkan. Karena memang selama persidangan sekalipun ditengah pandemi covid 19, yang wajib taat pada prokes, warga aktif mengikutinya.

Ditambahkan Iwan, sangat tidak manusiawi jika Ketua PN Kayuagung menolak 100% tuntutan penggantian kerugian warga Desa Arisan Buntal, yang nota benenya mereka adalah warga miskin yang selama ini bergantung hidup mereka dari bertani dan berkebun trasisonal, dan itu pak Eddy Daulatta tahu penderitaan mereka, ujarnya kesal.

Sementara itu Kuasa Hukum H Rusli Bastari dan rekan, kepada koran ini mengatakan, demi tegaknya keadilan, dan membela warga miskin, dirinya siap menempuh tahapan proses hukum berikutnya,. Sekalipun hingga proses akhir kasasi atau jika ada proses yang lebih dari itu. Secara moral saya sangat terpanggil memperjuangkan keadilan demi kebenaran.

Saya dan rekan tidak membebankan biaya sepeserpun kepada warga yang meminta jasa kuasa hukum pada saya. Semua biaya kami sepakati menjadikan ladang amal demi keadilan dan menolong warga tertindas ujar H Rusli Bastari.

Kini proses hukum berlanjut ke tahapan proses tingkat Kasasi. Warga sangat berharap pada gilirannya dapat mukjizatan dari Allah SWT, memberikan bisikan moral dan kepedulian bagi penegak hukum atas tuntutan warga. Paling tidak 50% kerugian mereka dipenuhi sebagai bukti masih adanya nurani yang mulia bagi penegakan hukum di NKRI ini.(*)
laporan : gusti ali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *