oleh

GRAK Minta Hakim Bebaskan Debi

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Aksi solidaritas Gelora Rakyat Akan Keadilan (GRAK) terhadap terdakwa Debi Destiana yang di vonis hakim Delapan tahun penjara amatlah menciderai rasa keadilan dan telah menghilangkan kepercayaan masyarakat akan hukum dan peradilan.

Pasalnya, Debi tidak bersalah atas dituduhkan Pengadilan Negeri (PN) Palembang Kelas 1A Khusus dalam perkara: 1168/Pid.Sus/2021/PN Palembang, melakukan tindak pidana narkotika.

Keterlibatan Debi hanyalah sebagai transaksi pinjam meminjam uang kepada salah satu tersangka yang kini masih buron (DPO), secara hukum masuk ranah hukum perdata, namun masih saja divonis pidana oleh majelis hakim.

“Debi tidak bersalah, minta hakim agar dibebaskan yang menjerat kasus hukum dengan vonis 8 tahun penjara oleh hakim yang menurut kami hakim tersebut disinyalir oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab,” kata koordinator GRAK, Fini Aria IsmailĀ melalui siaran pers, Jum’at (14/1/2021).

BACA JUGA:  DPRD Sumsel Panggil Pengelola Tol Palembang-Kayu Agung

Pada prinsipnya GRAK sependapat bahwa siapapun tindak pidana narkotika di hukum seberat-beratnya oleh majelis hakim. Tapi itu bukan tiap-tiap terdakwa yang dianggap diajukan dalam persidangan. Maka dari itu, GRAK meminta tuntutan Debi dibebaskan dari jeratan hukum

“Apabila menurut pandangan hakim, bahwa tiap-tiap terdakwa yang diajukan ke persidangan adalah salah dan mesti di vonis pidana, buat apa adanya lembaga peradilan kalau hanya membuat penumpukan narapidana di rumah tahanan,” tegasnya.

Kronologisnya, apa yang menjadi tuntutan hakim terhadap Debi atas tuduhan sebagai bendahara pelaku narkoba tentunya perlu ditela’ah lebih jelas dan teliti lagi.

Melihat dari kronologi kejadian bahwa Debi posisinya sedang bekerja di salah satu rumah sakit di Palembang yang tiba-tiba ditelpon oleh orang tuanya. Selain bekerja di RS, Debi juga suka meminjamkan uang dengan bunga standar.

BACA JUGA:  Kadinsos Sumsel Membantu Kursi Roda Wartawan Senior

Orang tua Debi menanyakan kepada Debi bahwa ada yang mau meminjam uang dengan menggadaikan sertifikat rumah. Lantas Debi mentransfer uang kepada orang tuanya dengan memakai rekening tetangga sebanyak dua kali dengan nominal 50 juta rupiah.

Setelah itu, Debi bekerja, tiba-tiba lebih kurang satu jam ada yang menelpon bahwa orang tua Debi ditangkap polisi. Ketika Debi pulang dan mengamuk sehingga akhirnya Debi dibawa ke Polrestabes Palembang atas tuduhan terlibat kasus narkotika.

Dilihat dari tuntutan hakim, berdasarkan barang bukti hanya berupa transfer yang secara hukum tidak bisa dikatakan mereka itu bekerjasama.

“Sebenarnya kalau tiga orang ditangkap itu kami terima karena mereka memang bersalah, tapi sesuai fakta dan kronologi di persidangan apa yang dituduhkan dua hakim bahwa Debi terlibat sebagai pelaku narkotika tentunya tidak mendasar fakta di persidangan,” kata anggota Grak, Suardi Pratama, yang terketuk hatinya terhadap ketidakadilan di Sumsel ini.

BACA JUGA:  Eddy Santana Kaget Transmusi Berhenti Beroperasi

Sesuai KUHP bahwa bukti saksi persidangan itu tidak boleh satu. Apalagi hanya satu barang bukti berupa transfer tentunya tidak bisa dikatakan signifikan.

“Untuk itu kami dari GRAK meminta banding ke PN dan mentela’ah lebih jeli terhadap PA yang dikuasakan sesuai proses hukum secara banding.
Kami tidak cukup di banding disini saja namun kami akan beraudiensi dengan DPR RI komisi 3,” tandasnya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait