GARBI Muncul dari Bawah

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi)  digelar di Gunz Cafe, dihadiri Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, Minggu (14/10).

Ketua Garbi Sumsel Amril Sudiono mengatakan,  Garbi ini bertujuan mengajak elemen anak bangsa.  menjadikan Indoensia menjadi kekuatan nomor 5 di dunia. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar,  maka bisa menjadi bangsa dengan kekuatan besar nomor 5 didunia.

“Ormas ini,  jika ada yang sepakat.  Mari bersama-sama bergerak bersama-sama untuk pengambil kebijakan, Garbi siap bersinergi mewujudkannya,” ujarnya.

Sementara itu,  Asisten I Pemprov Sumsel Akhmad Najib mengatakan,  mudah-mudahan gerakan ini selaras dengan visi dan misi Gubernur baru terciptanya Sumsel Maju Untuk Semua.

“Garbi adalah gerakan yang tumbuh dari bawah.  Lintas gama,  etnis,  budaya yang menginginkan Indonesia maju,” katanya.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dalam sambutannya mengatakan,  negara ini begitu luas, namun  ada flatform persatuan yakni sumpah pemuda.  Bangsa Indonesia trauma dengan komunisme. Karena pada 1965 terjadi  pemberontakan komunisme dengan kudeta.  Kalau tentara trauma dengan komunisme itu wajar karena ada jejak komunisme di Indonesia.

“Orde lama dinggap gagal memberi makan. Orde baru tidak gagal memberi makan.  Tapi orang dikekang,  tidak boleh berpendapat.  Sehingga ada pergerakan masif mahasiswa sehingg orba tumbang,  sehingga lahirnya era reformasi,” katanya.

Fahri mengungkapkan,  isu besar apakah yang lahir tahun ini,  karena ide reformasi itu mandek, berhenti.  Karena pemimpin tidak sanggup lagi menerbangkan bangsa ini.

Bangsa Indonesia jauh terbelakang dibandingkan bangsa lain yang tidak jauh tahun kemerdekaannya dengan Indonesia.  Indonesia jauh terbelakang dengan Korsel,  China, Singapura,  Malaysia,  dan Taiwan.

“Kita mengalami kemandekan, tapi terjadi stagnasi pada pikiran elit.  Setau saya Garbi ini tidak pernah ada rapat. Tiba- tiba muncul dari bawah, kelahiran Garbi,  kelahiran kegelisahan dari bawah.  Ada yang salah dari pemimpin kita, yang seharusnya mengangkat bangsa ini ke tempat selayaknya. Saya berani mengatakan Garbi sebuah koreksi, harus mulai dari perenungan,” bebernya.

Di Makasar Garbi banyak, lanjut Fahri,   karena di Sulawesi ada bencana besar. “Mari kita inrospeksi,  ada yang salah dari kita.  Kita sedang ditegur,  dan teguran itu keras sekali.  Musibah yang telah jadi di Aceh,  Tsunami,  gempa,  likuifikasi tiba-tiba lumpur dibawah rumah,  ditelan lumpur ribuan orang hilang.

“Saya menganggap harus ada introspeksi baik ilmiah dan agama. Kita harus sabar,  sadar kita tahu apa yang akan dilakukan.  Kita tidak boleh bergabung karena ikut -ikutan yang kita tidak punya ilmu. Garbi gerakan orang yang sadar masa lalu,  sekarang dan akan datang. Ini koreksi bangsa kita,” bebernya.

Peliput, M. Akip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *