Air Sungai Musi Keruh, Distribusi PDAM Tirta Musi Terganggu

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan membuat intensitas air di Sungai Musi menjadi keruh, hal ini di sebabkan karena tingginya curah hujan memasuki bulan Desember 2019 sehingga partikel-partikel kotoran terbawa ke dalama sungai dan mengakibatkan tingkat kekeruhan semakin pekat.

Air dikatakan keruh apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan meliputi lumpur, bahan-bahan organik yang tersebut secara baik dan partikel-partikel yang tersuspensi lainnya.

Dari data PDAM Tirta Musi Palembang, untuk tingkat kekeruhan tahun ini di angka sangat tinggi, sehingga menyebabkan air baku tidak mampu di olah Instalasi Pengelolaan Air (IPA) secara maksimal.

Sesuai data dan fakta, tingkat kekeruhan (Turbidity) sungai Musi jika kondisi normal berkisar 50-100 NTU (Number of Turbidity unit), hal ini disampaikan Direktur PDAM Tirta Musi Palembang, Ir Andi Wijaya melalui Direktur Operasional, Cik Mit didampingi Direktur Teknik M. Azharuddin, ST, di Aula Rapat Gedung PDAM Tirta Musi Palembang, Rabu (18/12) sore.

Direktur Operasional, Cik Mit didampingi Direktur Teknik M. Azharuddin, ST

Menurut Cek Mit hal ini disebabkan karena tingginya curah hujan. “Penyebabnya, biasanya terjadi karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi di hulu Sungai Musi, sehingga membawa partikel-partikel kotoran sampah kehilir Sungai Musi yang menyebabkan air menjadi sangat keruh,” jelasnya.

Ia menjelaskan, untuk meminimalisir tingkat kekeruhan air untuk distribusi ke masyarakat, PDAM Tirta Musi mengupayakan penggunaan polimer tambahan sebagai Koagulan atau merupakan bahan kimia yang dibutuhkan untuk membantu proses pengendapan partikel-partikel kecil yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya (secara grafitasi). Kekeruhan dan warna dapat dihilangkan melalui penambahan koagulan agar proses produksi dapat kembali normal.

“Wilayah yang terkena dampak sebagian besar yakni  wilayah di Seberang Ilir, unit Rambutan, Kalidoni dan 3 ilir (mengurangi tekanan debit air), unit KM 4 (seluruh wilayah), unit Sako diantaranya Tanjung sari 1, 2, Kedondong, serta Pipa reja,” jelasnya.

Selain itu wilayah, Unit Alang-alang Lebar meliputi Talang Jambi, Surya Sakti, HM Soleh, Sukadamai, Lubuk Kawah, Sukarela, Suka senang, Suka bakti, Sukabangun, Lintas barat, Komplek PLN, Polantas, Kaur dan Soak kiri, jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Cek Mita menghimbau pelanggan yang berada di wilayah yang terkena dampak agar dapat dengan bijak menggunakan air agar dapat mengantisipasi kebutuhan selama terjadi gangguan pengaliran.

Kondisi  ini menyebabkan air baku tidak mampu di olah Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang ada secara maksimal (sesuai kapasitas yang ada jika kondisi normal).

Dari pukul 03.00 WIB, Turbidity mencapai 700 NTU terus naik sampai dengan pukul 11.00 WIB menjadi 1.200 NTU, Sehingga harus dilakukan pengurangan debit produksi agar IPA mampu mengolahnya. (as)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *