Putri Bungsu Gubernur Deru Deg-degan Mau Masuk Koas

Ratu Tenny Lulus Kedokteran Hanya 3,5 Tahun

PALEMBANG, SuaraSumselNews | RATU Tenny Leriva, putri bungsu Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru merupakan mahasiswi kedokteran Unsri, Rabu (16/2) termasuk salah satu peserta wisuda Universitas Sriwijaya (Unsri).

Meskipun setiap hari dipadatkan dengan berbagai rutinitas, namun Ratu Tenny Leriva atau yang sering disapa Iva, lulus dengan waktu yang terbilang cepat yaitu 3,5 tahun. Tentunya dengan nilai yang memuaskan.

“Alhamdulillah ada perasaan lega, udah menyelesaikan masa pre-klinik. Ada juga perasaan deg degan karena mau masuk ke koas,” kata Iva, Rabu kemarin (16/2).

Menurut Duta Literasi Provinsi Sumsel ini, meskipun sibuk ia tetap learning by doing. Jadi manajemen waktu belajar dari waktu berorganisasi sejak semester awal kuliah harus konsisten.

Awalnya belajar dan memilah waktu belajar dengan organisasi. Semakin banyak kegiatan, makin harus belajar menyesuaikan. Perasaan lelah pasti juga ada, tapi selalu tanamkan di diri sendiri bahwasannya semua tanggung jawab yang dipikul itu bersifat wajib.

Mau itu perkuliahan, pekerjaan, organisasi atau yang lain itu harus diselesaikan, kenapa ambil kesempatannya jika hanya setengah-setengah? Jadi itu yang menjadi dorongan juga.

“Setiap hari bangun tidur harus menentukan prioritas mana yang harus dikerjakan duluan. Selama ini yang paling berjasa bagi saya orang tua, yang melahirkan, merawat, mendidik, membiayai, dan menjadikan diri hingga seperti sekarang,” ungkapnya.

Setelah lulus, Iva masih harus melanjutkan kepaniteraan klinik sebagai dokter muda (koas) selama 2 tahun ke depan. Sambil menjalankan semua kewajiban yang ada.

“Tentunya ada cita-cita untuk melanjutkan sekolah, tapi kalau secara spesifik belum menentukan ingin masuk ambil spesialis apa,” kata Iva yang juga sebagai Ketua Harian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Provinsi Sumsel.

Iva pun memberikan pesan kepada anak muda, pesannya untuk anak muda, kejarlah cita-cita dengan setekunnya. Terkadang ditengah perjalanan bisa terjadi tidak akan berjalan sesuai dengan yang dinginkan. Tapi disitulah tantangannya untuk mencari cara menyesuaikan diri.

“Expect the unexpected. But never do things half way. Yang pasti jangan lupa dengan kewajiban agama, berbakti kepada orang tua, dan mencari wawasan seluas-luasnya,” paparnya. (tr/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar