Pedagang Kelapa Muda Ditengah Masifnya Pandemi Virus Covid-19

Puluhan Pedagang Beraksi di Lemabang

 

PALEMBANG, SuaraSumselNews | BULAN Ramadhan di hari ke 9, tepatnya Sabtu siang itu (2/5), belasan pedagang kelapa muda menggelar dagangannya seputaran Jalan Ratusianum, 3 Ilir Kota Palembang.

Ya, meski masifnya pandemi Covid — 19 toh hingga saat ini, kawasan itu tidak pernah sepi. Hiruk pikuk dan padatnya pengunjung, memang kawasan ini sejak lama sudah menjadi tempat bagi penjualan kelapa muda.

Biasanya dalam kondisi normal saja, pedagang kelapa muda bertambah hingga puluhan orang. Bahkan mereka menggelar dagangannya hingga ke ruas jalan di depan Pasar Lemabang, Polsek Lembang, dan Yayasan Kartika Chandra Kirana (KCK.) yang masih berada di jalan kawasan yang sama.

Namun, dengan pandemi virus Covid -19 membuat sejumlah pedagang ada yang memilih tetap berada di rumah. Sehingga saat ini hanya tinggal puluhan orang masih berjualan di sini. Satu di antaranya, Wahid, (20), pedagang asal Kelurahan 1 Ilir.

“Meski Covid – 19, saya tetap berjualan karena keuntungannya cukup lumayan,” katanya. Juga seperti pedagang lainnya, setiap pekan, Wahid dua kali pergi ke desa di wilayah Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin. Maksudnya untuk membeli kelapa muda. Dan harga kelapa muda di tingkat petani Rp 3.000 perbuah. Harga sebesar itu sudah termasuk ongkos transportasinya.

Setiap pergi ke desa, dia membawa pulang antara 200-300 buah kelapa muda. Tiba di Kota Palembang, satu buah kelapa muda dijual hanya Rp 6.000.

“Kelapa sebanyak ini terjual paling cepat dua hari, paling lambat tiga hari,” ujarnya.

Jadi, tidak heran, dalam tiga hari, ia meraup keuntungan sampai Rp 400 ribu dari 200 buah kelapa muda yang terjual. Wahid mengakui selama pandemi Covid — 19 kelapa muda tetap laris. Meski persaingan cukup keras, usaha yang ia tekuni sejak 2019 itu masih mampu mendatangkan keuntungan cukup lumayan besar.

Di tempat berbeda, Kadir, siswa kelas II salah satu SMP di Kota Palembang, memilih berjualan sayur keliling selama pandemi Corona. “Dari pada di rumah, saya cari uang dengan berjualan sayuran,” ceritanya. Ia ditemui saat menjajakan sayuran kepada warga di Jalan Mangkubumi Lorong Nangko, Kelurahan 1 Ilir. Setiap pagi, Kadir pergi ke pasar untuk membeli sayuran yang kemudian dijual dari rumah ke rumah. “Keuntungannya memang kecil, tetapi kalau ditekuni, masih mendapat untung,” tuturnya dengan bersahaja itu. (*).

liputan : oca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *