“Pasar Cinde Ambruk, Kuliah Anakku Terputus !”

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Pembangunan Pasar Cinde yang dibongkar sejak 2017 lalu itu, jauh panggang dari api.

Padahal sejak awal pembongkaran pasar berstatus cagar budaya itu, semangat untuk menjadikannya sebagai pasar modern Aldiron Plaza Cinde (APC), hanya sebatas angan-angan belaka.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra Ir H Eddy Santana Putra sejak jauh hari sudah memperkirakan pembangunan Pasar Cinde menjadi pasar modern Aldiron Plaza Cinde 18 lantai itu, “tak mungkin” terwujud. Lho kok begitu ?

Eddy mengatakan bahwa kontraktor yang menangani pasar itu harus benar-benar bonafid dan perusahaan yang sudah memiliki prestasi internasional.

“Jujur, jauh hari sebelumnya, saya tak yakin pembangunan pasar itu dapat diwujudkan. Ini sama saja kita menelantarkan pedagang kecil yang saat ini jatuh melarat karena tak bisa berjualan seperti biasanya,” ujar Eddy Santana Putra di kediamannya Jalan Kapten A Rivai, Minggu (25/12/2023).

Menurut dia, sebelum dibongkar, harusnya dibahas terlebih dahulu secara detil, baik dari sisi budaya (pasar situs budaya) maupun kontraktor yang bisa memberikan kejelasan terkait teknik pembangunan dan kemampuan finansialnya.

Menjawab pertanyaan tentang adanya program lanjutan untuk membangun pasar tersebut di tahun 2023, Eddy mengatakan, jika pemborong tetap yang lama, ia yakin kondisi akan terbengkalai seperti itulah.

“Harus ada komitmen yang tegas terhadap pembangunan pasar modern Aldiron Plaza Cinde,” katanya.

Yang paling menyedihkan, kata Eddy, ketika Pasar Cinde dirobohkan tanpa mempertimbangkan aspek sosial kemasyarakatan bagi orang-orang kecil, para pedagang yang biasa mangkal dan berjualan di pasar itu, nasibnya menjadi tak berketentuan. “Saya prihatin menyaksikan kondisi seperti ini,” katanya.

Dalam kaitan itu, Eddy meminta agar Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota harus cepat bersikap untuk segera membenahi keadaan ini.

Sementara itu, pengamat sosial kemasyarakatan, Yan Najib, mengatakan bahwa reruntuhan Pasar Cinde yang merusak panorama kota itu harus segera dibangun.

Jika tidak, kata Yan Najib, kredibilitas pemerintah bakal dicap masyarakat sebagai “perusak” situs sejarah yang ada di Kota Palembang

“Setahu saya, Pasar Cinde merupakan bangunan sejarah milik masyarakat. Berangkat dari perbaikan dan keindahan dari Pasar Lingkis menjadi Pasar Cinde,” ujar Yan Najib.

Pasar itu, katanya, dibangun pada tahun 1957. Setelah setahun kemudian pasarnya selesai, dan disambut masyarakat dengan segala sukacita.

Pasar Cinde, kata Yan Najib, merupakan pasar pertama di Palembang bergaya Eropa. Pasarnya yang memiliki tiang penyangga dengan bentuk cendawan sangat menawan masyarakat ketika itu.

“Setahu saya, pembangunan Pasar Cinde ini diarsiteki bangsa Belanda, Hermann Thomas Karsten,” ujar Yan Najib.

Dari bagian struktur bangunan pasar itu, katanya, memiliki nilai filosofi kerakyatan. Artinya, tuang penyangga pasar menyiratkan nilai seolah para pedagang berjualan di bawah juntaian pohon yang melindungi para pedagang dari panas matahari.

Tiang-tiang penyangga itu dibangun mirip pepohonan yang membuat pedagang merasa nyaman menikmati luasnya sirkulasi udara di pasar tersebut

Corak dan mode bangunan Pasar Cinde memperlihatkan kecanggihan arsitektur pada zamannya. Sebab dari konstruksi bangunan yang luas dan lapang tidak membuat para pedagang terasa sesak ketika beraktivitas di ruang utama pasar itu.

“Dengan corak bangunan seperti itu, para pedagang dan pembeli merasa nyaman dan sejuk dengan sirkulasi udara seperti itu,” ujar Yan Najib.

Namun sayangnya, ketika pembongkaran pasar dilakukan tanpa mempertimbangkan nilai budaya dan sosial kemasyarakatan, maka maka masyarakat kota Palembang telah kehilangan situs sejarah, budaya, dan sosial masyarakat.

Sementara itu, mantan pedagang kecil (ikan laut), Machmud pekerjaan jadi tidak menentu. Ia mengaku bahwa anaknya yang kuliah di Universitas Muhammadiyah pada semester tiga harus berhenti stop out karena ketiadaan biaya.

“Saya sedih melihat nasib keluarga kami saat ini, Mas. Sejak Pasar Cinde dibongkar tahun 2017 lalu, saya tak memiliki pekerjaan lagi. Sementara anakku yang kuliah harus berhenti,” kata Machmud sembari menitikkan air mata sedih. (*)

Laporan Anto Narasoma