PALEMBANG, SuaraSumselNews – PEMKOT Palembang luncurkan Kalender Event Wisata 2025 yang menampilkan 143 agenda sepanjang tahun. Agenda tersebut meliputi festival budaya, olah raga, hingga kuliner, sebagai upaya menarik perhatian wisatawan.
Dalam dialog Palembang Menyapa di RRI Palembang, Jumat (12/12), Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata, Hairul Anwar, menyatakan siap kota menyambut mengundang pengunjung. Ia menyebut terdapat 15 destinasi unggulan yang telah diaktifkan, termasuk ikon seperti Jembatan Ampera.
“Kami mengingatkan pengunjung untuk menjauhi lokasi yang ada potensi tanah longsor dan banjir, karena kita tidak tahu apa yang bisa terjadi,” tegas Hairul. Ia juga meminta wisatawan untuk tetap waspada dan mengikuti imbauan dari petugas di lapangan.
Sementara itu, Ketua DPD ASSPI Sumsel, Mgs. Moh Isnaini F, menggarisbawahi pentingnya penguatan wisata sejarah di Palembang. Ia mencontohkan program Jernih Sriwijaya sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan nilai sejarah kota.
“Palembang ini kota tua. Kemarin kami juga baru menyelesaikan kegiatan Jernih Sriwijaya sebagai upaya memperkuat daya tarik wisata sejarah,” ujarnya.
Isnaini menilai sejarah adalah potensi yang belum tergarap maksimal dan perlu perhatian lebih serius.
Pemerhati Pariwisata Sumsel, Toni Panggar Besi, turut mengapresiasi kemajuan pariwisata Palembang. Menurutnya, kombinasi wisata alam dan buatan menjadi kekuatan utama yang terus menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kita melihat pariwisata Palembang luar biasa, ada dua potensi besar yaitu wisata alam dan buatan,” jelas Toni. Ia menambahkan bahwa Jakabaring dan Jembatan Ampera merupakan contoh destinasi yang paling diminati pengunjung.
Namun demikian, Toni juga menyoroti beberapa tantangan krusial yang masih dihadapi sektor pariwisata. “Kelebihan dan kekurangan tetap ada. Masalah keamanan, masalah yang harus diselesaikan, dan kemacetan masih menjadi catatan,” tambahnya.
Dalam sesi interaktif, seorang warga bernama Virgo dari Banyuasin menyoroti kurangnya perhatian terhadap wisata sejarah. Ia menyebut Goa Jepang sebagai salah satu destinasi yang tidak terawat dan kehilangan fungsi edukatifnya.
“Minimal kalau tidak bisa dilewati, setidaknya bisa dijadikan media edukasi,” tuturnya. Virgo juga berharap pemerintah serius membenahi situs bersejarah lain agar bisa dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran masyarakat.
Para narasumber sepakat bahwa Palembang memiliki potensi besar menghadapi musim liburan Nataru. Namun, penguatan pengelolaan, infrastruktur, dan pelestarian sejarah harus menjadi fokus utama agar pariwisata berkelanjutan dapat terwujud. (*)








