Lomba Perahu Bidar, Hasilkan Pendayung Muda yang Handal

Semarak Perahu Bidar di Sungai Komering

KAYUAGUNG, SuaraSumselNews –
ADA tradisi sejak lama, setiap ada pesta akbar atau peringatan Proklamasi RI, di Kota Kayuagung dipastikan ada lomba perahu bidar. Ini semua sudah menjadi trendi bagi tatanan kehidupan masyarakat.

Nyatanya, pada HUT RI ke 76 tahun ini,
kembali disemarakkan dengan lomba perahu bidar. Meski kondisi pandemi Covid-19, tak membuat lomba perahu bidar ditiadakan oleh masyarakat disini pada tahun 2021.

Memang, tradisi lomba perahu bidar yang artinya “perahu perang” diperkirakan sudah ada saat perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina (Ratu Belanda) pada 1898. Perahu bidar terdiri dari bidar mini, bidar pecalangan, dan bidar besar.

Meskipun tidak ada pembinaan dari pemerintah, toh warga Desa Tanjung Alai, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), pada setiap generasi melahirkan pendayung bidar. Para pendayung ini terus aktif mengikuti lomba perahu bidar mini.

Baiknya, tradisi perahu bidar harus dilakukan pembinaan. Baik secara budaya, olahraga, maupun tradisi. Apalagi saat ini jumlah perahu bidar besar di Sumatera Selatan jumlahnya hanya mencapai 10 unit.

Salah satu tradisi lomba perahu di Desa Tanjung Alai (OKI) adalah lomba perahu bidar. Biasanya digelar setiap tahun dalam merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus.

Diketahui, lomba perahu bidar pertama kali digelar di Sungai Musi dan dilaksanakan pada saat merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina Ratu Belanda pada 1898. Selanjutnya lomba ini digelar setiap memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bidar artinya “perahu perang”. Dilihat dari bentuknya, perahu bidar merupakan perahu pencalang, yang panjang dan tidak memiliki tutup.

Pencalang dalam bahasa melayu artinya melaju cepat atau cepat pergi. Sejumlah sejarawan memperkirakan, perahu pencalang digunakan para prajurit di masa Kedaulatan Sriwijaya untuk berperang, setelah turun dari kapal utamanya.

Perahu bidar dibuat dengan menggunakan kayu. Umumnya pohon kayu rengas. Ada beberapa jenis perahu bidar yakni Bidar kecik (Mini) dengan jumlah pendayung 5-11 pendayung, serta Bidar Besak (Besar) yang bisa mengangkut 57-58 pendayung. Perahu Bidar Besak memiliki panjang sekitar 26 meter, lebar 1,37 centimeter, dan tingginya 70 centimeter (tengah).

Terlepas dari sejarahnya, tradisi perahu bidar merupakan lomba yang kerap dinantikan oleh masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) setiap tahunnya.

Kota Kayuagung, merupakan sebuah wilayah yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang berada di Sungai Komering. Sejak dahulu, Sungai Komering menghasilkan para pendayung handal. Mereka biasanya disewa sejumlah pihak, baik pemerintah, organisasi maupun perusahaan, untuk membawa perahu bidar yang dilombakan.

Selain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabupaten Ogan Ilir (OI), juga menghasilkan para pendayung perahu bidar. Sebagian atlet dayung Sumatera Selatan dilahirkan dari masyarakat di kampung-kampung yang memiliki tradisi tersebut.

Para pendayung perahu bidar lahir secara alami, tidak ada pendidikan khusus. Mereka hanya mendapat pelatihan dari para pendayung terdahulu.

Pekan lalu, beberapa perahu bidar mini mengikuti lomba perahu bidar mini yang digelar di Desa Tanjung Alai Kecamatan Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Lomba ini disaksikan oleh ribuan warga dari puluhan desa di Kecamatan Jejawi.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia Ansori AK mengatakan, perahu bidar mini ke depan harus diperbanyak dan rutin harus dilombakan. Agar para peserta semangat untuk mempersiapkan diri dan tradisi ini bisa terus dijaga,” tuturnya, Selasa, (24/8).

“Upaya pelestarian dengan mengelar lomba perahu bidar merupakan pembinaan pendayung sekaligus promosi daerah,” ujarnya.

Terkait soal pendayung muda perahu bidar, Ansori AK mengatakan. Dinas Pariwisata Kabupaten Ogan Komering Ilir harus melakukan pendataan mengenai berapa banyak jumlah perahu bidar dan para pendayung di Kabupaten OKI.

Dinas Pariwisata Kabupaten OKI, masih kata dia, harus membuat program pembinaan untuk para pendayung perahu bidar. Seksi pelestarian dan pengembangan olahraga dan rekreasi serta olahraga tradisi.

“Perahu bidar termasuk olahraga tradisi, seperti tarik tambang. Dispora Kabupaten OKI harus ikut serta dalam melakukan pembinaan. Kabupaten OKI harus menjadikan bidar sebagai atraksi daya tarik wisata, sehingga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Tahun 2022, adalah momen paling tepat untuk mengembangkan potensi wisata di Kabupaten OKI. Pembinaan terhadap pendayung perahu bidar oleh Dinas Pariwisata Kabupaten OKI harus dilakukan minimal setiap satu tahun sekali.

Pembinaan kepada para pendayung perahu bidar harus dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten OKI.

“Perahu bidar itu hanya bertahan lima tahun. Jadi butuh pembinaan agar perahu terawat dan lestari. Saat ini, ada banyak perahu bidar mini di Kabupaten OKI yang kerap diperlombakan setiap tahunnya,” ujarnya.(*)

laporan ; adeni andriadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *