Tiga Daerah Sumsel Catat Udara tak Sehat
PALEMBANG, SuaraSumselNews — MENJELANG peringatan HUT RI ke 81 di Sumsel, mulai terasa dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ya mulai terasa hingga ke pusat Kota Palembang. Dalam empat hari terakhir, asap disebut semakin terasa terutama pada pagi hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah di tengah upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) yang belum berjalan optimal akibat minimnya pertumbuhan awan hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan Iqbal Alisyahbana mengatakan, masuknya asap karhutla ke Palembang menjadi perhatian serius.
Terlebih, OMC yang mendapat dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah berlangsung selama tiga hari, namun belum menemukan awan hujan yang cukup untuk menghasilkan hujan.
“Di Palembang sendiri, empat hari ini sudah terasa kalau kita pagi-pagi, asap yang masuk ke Kota Palembang ini sudah sangat terasa,” kata Iqbal, akhir pekan kemarin (7/8).
Menurutnya, kondisi awan hujan di wilayah Sumsel selama pelaksanaan OMC masih relatif tipis. Situasi tersebut membuat upaya menghasilkan hujan melalui penyemaian awan belum memberikan hasil maksimal.
“Ditambah lagi selama OMC tiga hari dilakukan belum menemukan awan hujan. Bantuan OMC dari BNPB, tapi memang dalam tiga hari ini awan hujannya memang tipis,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mulai memperkuat upaya perlindungan masyarakat dari dampak asap karhutla. Saat kunjungan Menteri Kehutanan ke Sumsel, BPBD menyampaikan sejumlah kebutuhan untuk mendukung penanggulangan karhutla, salah satunya bantuan masker bagi masyarakat.
Iqbal mengatakan, masker tersebut nantinya akan dibagikan kepada warga sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap.
“Kemarin pada saat kunjungan dari Pak Menteri Kehutanan, beliau menyampaikan apa saja yang diperlukan dalam penanggulangan kebakaran di Sumatera Selatan. Salah satunya yang kami minta memang adanya bantuan masker,” katanya.
Menurut Iqbal, permintaan tersebut menjadi penting karena dampak karhutla mulai meluas. Asap tidak hanya mengancam wilayah yang berdekatan dengan lokasi kebakaran, tetapi juga mulai memasuki kawasan perkotaan.
Ia menegaskan, persoalan asap karhutla memiliki dampak yang lebih luas, termasuk terhadap kesehatan dan aktivitas ekonomi masyarakat. “Asap ini mengganggu kesehatan, mengganggu perekonomian, dan mengganggu hubungan bilateral,” ujarnya.
Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel juga menunjukkan adanya dampak dari kabut asap. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 7 Agustus 2026, kualitas udara di Palembang berada pada kategori sedang.
Kategori serupa tercatat di Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin dan Muara Enim. Sementara itu, OKU Selatan masih berada dalam kategori baik. Namun, tiga daerah telah mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat, yakni Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan Lahat.
Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla mulai memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumsel. Ancaman dinilai masih berpotensi meningkat mengingat musim kemarau masih berlangsung dan hujan belum turun secara merata.
Sepanjang periode 1 Januari hingga 6 Agustus 2026, BPBD Sumsel mencatat sebanyak 872 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare.
Pemerintah pun terus memperkuat upaya pemadaman sekaligus pencegahan agar kebakaran tidak meluas dan dampak asap terhadap masyarakat dapat ditekan.[*]




