PALEMBANG, SuaraSumselNews | ANCAMAN kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) meningkat drastis. Hingga akhir Mei, total tercatat 670 hotspot. Padahal, Januari hingga awal Mei hanya 425 titik. Dengan begitu, terjadi penambahan hingga 200 titik lebih dalam sebulan.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori, mengatakan, saat ini memang terjadi peningkatan hotspot yang signifikan.
Hotspot terbanyak terpantau pada April, 227 titik. Sedangkan Januari hanya 54 titik, Februari ada 43 titik, dan Maret sebanyak 91 titik.
Saat ini, ucap Ansori, seluruh wilayah Sumsel berpotensi karhutla. Terutama daerah-daerah yang mempunyai lahan gambut.
“Daerah yang paling berpotensi karhutla yakni OKI, Muba, Banyuasin, PALI dan Muara Enim,” ujarnya.
Untuk sebaran hotspot terbanyak hingga saat ini, kabupaten Muratara sebanyak 117 titik, Musi Rawas 116 titik, dan Muba 110 titik.
Lalu Muara Enim 53 titik, OKI 36 titik, Empat Lawang 26 titik, dan Banyuasin 41 titik. Kemudian, Lahat 42 titik, OKU 28 titik, PALI 49 titik, dan Ogan Ilir 17 titik.
Sementara, di OKU Selatan 14 Titik, Prabumulih 9 titik, OKU Timur 9 titik, Pagaralam 2 titik, Lubuklinggau 1 titik. Hanya Palembang yang masih nihil hotspot.
“Untuk water bombing sudah dilaksanakan. Helikopter bantuan BNPB sudah datang. Sedangkan TMC belum,” kata Ansori.
Untuk rekayasa hujan buatan ini masih menunggu persetujuan dan bantuan pusat. Berdasarkan hasil patroli udara, wilayah yang terpantau ada karhutla yakni Muara Enim, PALI dan Musi Rawas.
“Tapi untuk berapa luasan lahan yang terbakar belum ada. Nanti akan dikeluarkan oleh Kementerian LHK,” tandasnya.
Sementara, penyebabnya karhutla masih sama. Sebagian besar ulah manusia. Seperti yang terungkap di wilayah Ogan Ilir. Pada 26 Mei lalu, muncul hotspot di daerah Pemulutan. Ternyata, terjadi karhutla di Desa Tanjung Pasir. “Karhutla terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, luasnya 1 hektare,” ujar kepala BPBD Ogan Ilir, Edi Rahmat.
Pihaknya bersama personel Polsek Pemulutan, TNI dan Manggala Agni mendatangi titik itu. Yang terbakar berupa vegetasi ranting dan pohon.Upaya pemadaman dibantu dengan helikopter waterbombing.
Rupanya, sudah lebih dulu beberapa warga sedang berusaha memadamkan kebakaran lahan tersebut. api tersebut. Salah satunya Said (47), warga Tanjung Pasir. Dia pun dimintai keterangan oleh petugas. Dari keterangan Said, lahan yang terbakar bukan miliknya. Tapi punya warga Bangka Belitung. Dia hanya penjaga lahan itu dan dipekerjakan untuk membuka lahan.
“Pada saat kejadian kebakaran tersebut, saksi hendak mengantarkan makanan kepada operator ekskavator.Tapi dari jauh melihat dua orang sedang membakar tumpukan pohon dan ranting pada lahan yang sudah dibukanya,” jelasnya.
Said bersama anak dan istrinya mengejar kedua orang gitu. Tapi tak berhasil. Mereka bertiga kemudian berusaha memadamkan api yang membesar. Hingga kemudian petugas tiba. Laporan karhutla diduga pada aktivitas pembukaan lahan kebun juga terjadi di Desa Sukananti Kecamatan Rambang Kuang, Ogan Ilir.
Kapolsek Muara Kuang Iptu Alimin mengatakan, pihaknya langsung melakukan pengecekan dan upaya pemadaman.”Kejadiannya Minggu, 28 Mei. Yang terbakar setengah hektare. Laham semak,” jelasnya.
Terpisah, Kapolsek Tanjung Batu, AKP Sondi Fraguna SH menambahkan, ada lokasi titik api yang terdeteksi Senin (29/5).
Yakni di Desa Tebedak I Kecamatan Payaraman. “luas lahan yang terbakar lebih kurang 400 meter persegi. Lahan kebun dan mineral,” bebernya,
Belum diketahui milik siapa kebun yang terbakar. Tapi kejadian itu dalam penyelidikan.
“Yang bandel akan kita proses sesuai hukum,” tegasnya. Kemarin, Kapolda Sumsel Irjen Pol A Rachmad Wibowo turun ke OKI.
Digelar rapat koordinasi pencegahan karhutla. Hadir Bupati OKI H Iskandar SE, Kasrem 044/Gapo Letkol Inf Tri Yudianto Hendro Winoto SIP Wibowo, BPBD OKI dan stakeholder terkait.
“Prediksi BMKG akan terjadi El Nino. Jadi semua harus bergerak melakukan antisipasi,” ujar Kapolda. Berkaca dari kejadian karhutla 2015 dan 2019, OKI banyak terjadi karhutla.
“Kapolres, Kapolsek dan Dandim harus menguasai lahan yang rawan terbakar di wilayahnya,” pinta dia.
Kalau melihat luas wilayah yang rawan, pasti tidak semuanya bisa tercover pengawasan. Untuk itu, Kapolres OKI dan Dandim 0402/OKI harus mengajak perusahaan dan masyarakat.Sosialisasi dan berikan pengertian kepada masyarakat agar jangan membakar lahan.
Harus dicek kesiapan peralatan, embung, kanal dan sarana prasarana lainnya. (*)







