PALEMBANG, SuaraSumselNews Aktivitas ekspor batu bara dan lignit yang merupakan komoditas unggulan Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami penurunan sepanjang 2025. Kondisi ini bukan dipicu faktor domestik, melainkan dipengaruhi perkembangan di pasar global.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Intan Yudistri Pebrina mengatakan sepanjang Januari hingga Desember 2025 nilai ekspor Sumsel mencapai US$6.334,31 miliar atau turun 5,78% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY).
Menurutnya, dari sepuluh komoditas nonmigas dengan nilai ekspor terbesar, sebagian besar mengalami peningkatan dibandingkan periode Januari–Desember 2024. Kenaikan tertinggi terjadi pada komoditas karet dan barang dari karet yang meningkat sebesar US$130,52 juta atau 9,67%.
Namun, secara keseluruhan penurunan ekspor Sumsel terutama dipicu merosotnya kinerja ekspor batu bara dan lignit yang selama ini menjadi kontributor terbesar.
“Sepanjang tahun lalu turun, terutama penyebab turunnya itu dari nonmigas yaitu yang terbesar batu bara dan lignit,” katanya, dikutip Selasa (3/2).
Intan menjelaskan dari total ekspor Sumsel sepanjang 2025, andil batu bara dan lignit mencapai 40,86% dengan nilai US$2.430,47 juta. Meski demikian, nilai ekspor komoditas tersebut tercatat menurun sebesar 16,46% atau setara US$478,77 .
Dia menambahkan, penurunan ekspor batu bara dan lignit disebabkan oleh faktor eksternal, terutama melemahnya permintaan di pasar global. Kondisi ini, katanya, sejalan dengan tren transisi energi menuju pemanfaatan energi baru dan terbarukan.
“Kalau penurunan [batu bara] karena memang permintaan global. Jadi meskipun kita tetap ekspor, tapi dari permintaan global sendiri berkurang,” tuturnya.
Lebih lanjut, Intan menegaskan bahwa penyusutan ekspor batu bara sepanjang tahun lalu tidak berkaitan dengan kebijakan larangan angkutan batu bara di jalan umum di Sumsel.
Menurutnya, penurunan tersebut murni dipengaruhi kondisi eksternal. “Karena memang permintaan yang berkurang, bukan dari kita [Sumsel] yang membatasi,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumsel, produksi batu bara di wilayah tersebut pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 104 juta ton.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 53 juta ton dialokasikan untuk ekspor, sedangkan 51 juta ton lainnya untuk memenuhi kebutuhan domestik atau Domestic Market Obligation (DMO). (*)




