Bila Berkunjung Banyak Ular Berkeliaran
PALEMBNG, SuaraSumselNews | WARGA Sumsel, khususnya Kota Palembang, tentang keberadaan lokasi ‘Pemakaman Siguntang’ di kawasan Bukit Besar, pasti dapat mengetahuinya.
Bukti sejumlah pengunjung ke makan tersebut merasa kaget. Pasalnya, banyak perubahan, apalagi bangunan-bangunan makam disini sangat jauh perbedaan dari aslinya.
Setelah melihat-lihat seputaran makam, para leluhur Kerajaan Sriwijaya ini sangat tidak teratur dan terkesan kurang perhatian dan pemeliharaannya.
Ternyata, ketika ditemui sejumlah pengunjung yang lagi berkunjung ke makam Putri Kembang Dadar, Kamis kemarin (18/10), mereka merasa kaget.
Mengapa? Karena keadaan sekitar makam sangat jauh berbeda sekali dengan aslinya. Ya, terakhir kami kesini berkunjung tahun 2014 lalu. Dan saat itu semuanya masih asli trmasuk makam dan bangunannya.
Kalau dulu kami berkunjung disini sangat nyaman, karena suasana makam tertutup dan sangat rapi penataannya. Ya, tidak seperti sekarang bangunan makam sepertinya bukan cagar budaya asli Palembang,”papar mereka dengan rasa prihatin.
Saat bersamaan juga berjumpa dengan salah satu juru kunci yang berada dimakam tersebut. Dan penjaga tersebut menrangkan, memang benar ada 7 makam yang sudah tidak asli lagi. Dan perubahan bentuk seputar makam dimulai sejak tahun 2016 lalu.
Dari tujuh bangunan makam yg sudah dirubah keaslian nya, seperti, Radja Segentar Alam, Putri Rambut Selako, Pangeran Radja Batu Api. Dan Panglima Bagus Karang, Panglima Bagus Kuning, Putri Kembang Dadar dan Panglima Tuan Djundjungan. ‘’Pastinya semua bangunan makam para leluhur yang ada di Bukit Siguntang, tidak ada yang asli lagi,’’ terangnya.
Menariknya lagi, kawasan Bukit Siguntang memiliki lahan dengan luas mencapai 12,8 hektar. Komplek pemakaman ini menurut warga dikaitkan dengan tokoh tokoh bangsawan dan pahlawan melayu Sriwijaya.
Kabarnya bukit ini seperti dipaparkan oleh kitab sulalatu salatin, merupakan tempat datangnya Sangsapurba keturunan Iskandar Zulkarnaen yang menurunkan raja raja melayu di Sumatera, Kalimantan Barat dan semenanjung melayu. Juga bukti sejarah masuknya ajaran budha di Palembang abad ke 7 dengan ditemukannya pragmen Arca Bodisafa sebelum ajaran Islam masuk di awal abad ke 13.
Ternyata dimakam Siguntang memiliki kurang lebih 360 juru kunci yang diatur oleh sembilan panitia yang diketuai, Amancik Adil.
Sementara untuk sekarang, hanya ada tiga juru kunci yang dipercaya. Masing-masing, Suharyadi, Rusdi dan Sulaeman. Dan merekalah yang dipercaya untuk mengatur semua yang ada di makam tersebut, urainya.
Salah satu juru kunci kepada SuaraSumselNews kemarin, menuturkan, sejak tahun 2016 makam Siguntang ini sepi dari pengunjung. Penyebabnya, karena adanya perbaikkan dan perubahan bentuk bangunan, hingga saat ini.
‘’Kalau bagi saya bangunan yang sekarang ini, sangat jauh berbeda dengan aslinya. Sedangkan makam tersebut merupakan tokoh tokoh pahlawan kerajaan Palembang. Dan seharusnya bangunan makam tersebut bernuansa Palembang dengan menampilkan limasnya,’’ tutur Suharyadi.
Ya, kalau sekarang kayak bukan seperti makam leluhur Kerajaan Sriwijaya. Karena nuansa bangunannya tak menampilkan khas Palembang atau Sriwijaya. ‘’Semua bentuk bangunan tidak sesuai dengan aslinya,’’ tambahnya.
Ironisnya kata dia, seputar halaman pinggir makam sangat kotor. Ini semua karena terkena percikan air hujan. Termasuk banyaknya hewan liar seperti ular dan sejenis yang masuk sehingga kenyamanan pengunjung menjadi terganggu disini. (*)





贴纸和 GIF 是 telegram 聊天中的乐趣,丰富了用户的表达方式。