Wabup Ogan Ilir Kaget, Ada Lima Siswa SMPN tak Bisa Baca

INDRALAYA, SuaraSumselNews — ADA berita yang mengagetkan warga Ogan Ilir. Nyatanya, masih ada siswa SMPN disini belum bisa baca alias buta huruf. Bahwa terungkap 5 (lima) siswa SMP Negeri di Bumi “Caram Seguguk’ belum bisa membaca alias buta huruf.

Ungkapan ini dijelaskan Wakil Bupati Ogan Ilir, H. Ardani dalam pengarahannya pada acara pelantikan pejabat administrator dan pengawas di Digedung Serba Guna Komplek Perkantoran Terpadu (KTP) Tanjung Senai, Indralaya Sumsel. Jum’at (26/9).

Lebih lanjut dikatakan, masalah buta huruf tersebut terungkap, setelah orang nomor dua di Ogan Ilir itu mengadakan kunjungan ke salah satu SMP Negeri baru-baru ini.

Menurutnya, hal ini sangat membuatnya terkejut sebab di tengah upaya pemerintah meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai program dan kurikulum, masih ada siswa kelas 3 SMP belum bisa membaca.

Dikatakan Ardani, siswa yang belum bisa membaca tersebut diketahui pasti setelah anak didik itu diujinya sendiri dengan menyuruh mereka untuk membaca.
“Ada 5 (lima) siswa SMP Negeri Kelas 3 tidak bisa baca. Saya bilang ‘coba baca ini’. Dijawab, tidak bisa baca,” tutur Ardani.

Saat itu, menurutnya, membuat pihak sekolah menjadi terdiam Ketika ditanya tindakan apa yang dilakukan untuk mengatasi permasalah ini.
“Saya tanya pada kepala sekolahnya, apa tindakan untuk kelima anak ini? Tidak ada, diam saja,” ucap Ardani.

Masih kata dia, seharusnya sekolah segera ambil tindakan, dengan membuka kelas khusus untuk siswa-siswa tersebut, dengan begitu masalah ini perlahan bisa diatasi.

“Pihak sekolah mestinya membuat kelas khusus. Setelah jam pelajaran, setengah jam saja bolehlah untuk belajar baca tulis,” harap Ardani.

Di kesempatan sama Ardani berpesan, seorang abdi negara harus memiliki integritas yang digunakan untuk melayani masyarakat, jangan pasif dan seolah tidak memiliki tanggung jawab.

Dengan begitu, katanya, tidak akan terjadi di Kabupaten Ogan Ilir, ada anak didik duduk di kelas 3 SMP tidak bisa membaca akibat masih kurangnya tindakan seperti yang diceritakan.

“Itu maksud saya, tanamkan integritas dalam bertugas. Jangan kita biarkan saja. Jangan hanya menunggu gaji dan tunjangan. Amanah yang diberikan harus dijalankan semaksimal mungkin,” pesan Ardani. (gus)