Kehidupan masyarakat di desa kebanyakan warganya bertani, seperti berkebun Karet, Sawit dan Palawijah, hal ini menyebabkan tingginya angka kemiskinan karena keterbatasan lapangan pekerjaan, apalagi di pedesaan umumnya kebanyakan buruh tani dan petani, hal inilah membuat masyarakat mempertaruhkan kehidupan di luar bahkan ke luar negeri untuk mencari napkah.
Namun bagi Yulianti (33) warga Desa Bangun Sari, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim ini, dirinya tidak harus kerja keluar desa, apalagi harus keluar negeri untuk mencari pekerjaan dalam menopang dan membantu kehidupan keluarga bersama suaminya.
Memang sebagai orang desa kamampuannya untuk melakukan pekerjaan juga tidak bisa berkembang, apalagi untuk membangun usaha, karena diperlukan modal dan keahlian.
Namun secercah harapan hadir di desanya, kehadiran perusahaan migas PT Medco E&P Indonesia – Lematang Asset di Desa Bangun Sari ternyata memberikan dampak yang sangat baik bagi masyarakat, dirinya dan keluarga.

Yulianti mengungkapkan, hadirnya tambang migas di desanya membuat dirinya mempunyai keahlian dalam bidang menjahit pakaian.
Ia menceritakan awal mula dirinya mengikuti pelatihan menjahit yang di selenggarakan PT Medco E&P Lematang Asset, karena untuk dirinya pribadi belum pernah mengenal dan tau tentang cara-cara menjahit.
“Tahun 2017 ada pelatihan dari desa melalui dana desa selama 4 hari dan di ikuti 40 orang peserta, dengan peralatan 7 mesin jahit, jadi untuk latihan sebanyak 40 orang dalam latihan menjahit membuat kita belum paham benar tentang caranya,” ceritanya.
Dari situ, sambungya, pihak desa meminta bantuan PT Medco E&P Lematang Asset untuk mengajukan pelatihan menjahit lagi.
“Alhamdulliah Medco mengabulkan, jadi kita ada pelatihan lagi selama satu bulan tahun 2017. Kita yang mengikuti ada 16 orang, jadi pelatihan hanya tingkat dasar, masih yang ringan dan simpel saja,” ungkapnya.

Karena pelatihan yang mereka terima dirasa belum mencukupi dalam bidang menjahit, akhirnya keduakali mereka mengajukan kembali dan dikabulkan untuk pelatihan lanjutan cara-cara menjahit.
“Alhamdulliah hanya sembilan orang yang ikut, karena yang lain mundur,” jelasnya.
Ia menjelaskan, dari sembilan anggota yang ikut pelatihan, hanya empat penjahit saja bertahan sampai saat ini, dengan bermodalkan pelatihan selama ini akhirnya mereka sudah berani mengambil orderan menjahit.
“Kalau di kelompok sendiri kita sepi job, karena kalau ada job paling dari Medco, seperti untuk acara sunatan, box masker dan membuat celemek,” beber istri Ade Suparman (37) ini.
Ia menceritakan pengalaman saat pelatihan sudah sangat banyak bantuan yang mereka terima, dari mulai belajar menjahit, dapat uang transport, makan, alat seragam, peralatan dan bahan seragam yang sudah dibantu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) SKK Migas ini.
“Bantuan yang kita terima yakni mesin jahit manual 1, mesin obras 1, boneka manikin, setrikaan, gunting, meteran dan peralatan lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, akhir tahun 2021, Medco kembali menawarkan bantuan kepada kelompoknya.
“Jadi saya minta bantu bahan dasar sekolah, karena sudah mau masuk sekolah dan akhirnya kita dibantu uang Rp.4,5 juta. Jadi uang tersebut kita belikan kain dan alhamdulliah kainnya habis untuk anak-anak sekolah,” katanya.
Dengan ada bantuan ini, kelompoknya memberikan harga murah dengan diskon Rp.20 ribu persetel seragam sekolah, mengingat bahan yang mereka pakai juga dibantu pihak Medco.
“Untuk satu potong baju sekolah dasar kita jual Rp.200 ribu sudah lengkap, ada nama dan bad, dengan bahan yang sangat bagus yakni bahan Intercooler,” kata dia.
Kalau harga normal 250 ribu, jadi kita tidak mau kasih mahal. ”Kita dapat upah saja sudah alhamdulliah dan bisa bantu orang di desa,” imbuhnya.
Tidak Harus Keluar Negeri
Ia menyadari, kehadiran PT Medco E&P dan segala bentuk bantuan yang telah ia rasakan, ternyata bukan dirinya saja yang merasa bersyukur, namun malah suami yang sangat berterima kasih dan bersyukur dengan keahliannya menjahit, jadi ada kerjaan di rumah dan tidak keluar desa untuk mencari pekerjaan. “Karena perempuan di sini kalau tidak ada kerjaan, jadi jenuh dan mereka akhirnya pergi keluar negeri,” ungkapnya.

“Kalau saya, suami yang malah sangat bersyukur karena bisa menjahit, jadi saya bisa bekerja di rumah, bisa mengurus anak. Alhamdulillah kebutuhan di rumah tangga kalau ada kekurangan saya bisa nutupin, untuk segi ekonomi dan keluarga dirumah itu sangat terbantu,” tandas Yulianti.
Bahkan, tambahnya, suami menawari dirinya untuk sekolah menjahit lagi di Kabupaten Muara Enim, walaupun pakai dana pribadi sendiri.
“Agar saya bisa ke tingkat yang lebih mahir lagi dalam mejahit,” jelasnya.
Dapat Orderan Menjahit
Yulianti menceritakan, kini dirinya mendapatkan order menjahit pakaian anak-anak sekolah PAUD.
“Kebetulan kepala sekolah PAUD nya keponakan, jadi saya minta jahitan. “Tolonglah saya minta jahitan, alhamdulillah saya dikasih,” ungkapnya.
Untuk satu setel pakain sekolah PAUD dirinya mematok harga Rp.120 ribu dengan harga bahan permeternya Rp.45 ribu.
“Makanya dia (keponakan red) bilang, bibi apakah bahannya nggak kemahalan, nanti rugi. Kalau rugi sih nggak, tapi masih punya sedikit untung, yang penting kamu percaya saya,” jelasnya.
Kalau untuk hari-hari biasa pernah dapat Rp.1 juta sebulan dan pernah juga dapat Rp.250 ribu.
“Dengan adanya bantuan Medco ini dari segi ekonomi sangat terbantulah, apalagi saat musim sekolah ini dalam satu bulan saya mendapat keuntungan Rp.4 juta,” ujar ibu dari Aradea Pratama dan Adelia Bilqis ini.
Ingin Punya Tempat Konveksi Baju Sendiri
Yulianti merasa, dibandingkan bantuan dari desanya ternyata lebih besar bantuan dari Medco. “Perbandingannya sangat jauh sekali, saat pelatihan kemarin, kita di bantu uang, seragam, peralatan dan bahan semua dari Medco,” bebernya.
Ia menjelaskan, peralatan yang di bantu PT Medco kemarin ada di kantor desa, namun saat ini tidak ada tempat, jadi akhirnya dibawa ke rumah masing-masing karena takut karatan. Dirinya berharap ada tempat sendiri untuk kelompoknya dalam melakukan aktivitas menjahit.
“Harapannya sih, kalau untuk Medco sendiri supaya lebih maju dan lebih sukses lagi biar bisa bantu kita disini dan untuk kelompok, pinginnya dibantu tempat sendiri seperti tempat konveksi, jadi kita tidak perlu menunggu ada orderan,” harapnya.
Ia dan kelompoknya inginya usaha terus menjahit, seperti membuat kolor atau sarung bantal yang nanti bisa dititipkan kemana saja.
“Atau kita terus membuat seragam sekolah PAUD, SD, SMA, terus kita titip di toko-toko, jadi kita tidak harus menunggu setahun sekali dan menunggu setiap masuk sekolah baru menjahit, jadi kita bisa kerjanya setiap hari dan bisa bergaji setiap bulan dengan adanya tempat sendiri yakni Konveksi Sari Busana,” harapnya.
Penulis : Muhammad Asri








