Setiap Ada Perubahan Selalu Disertai Peran Generasi Muda

PALEMBANG, SuaraSumselNews | DEMI kelangsungan demokrasi yang sejuk dan berpihak ke rakyat, perlu ditumbuhkan secara gigih di dalam jiwa generasi muda.

Anggota VI Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Dr Pius Lustrilanang SIp MSi CFRA CSFA, mengatakan bahwa suasana reformasi terus dilakukan generasi muda sejak menjelang kejatuhan rezim Soeharto.

“Saya berharap apa yang sudah dilakukan para pemuda itu dapat digalakkan secara terus-menerus, sehingga kelangsungan demokrasi di Indonesia dapat tercipta sesuai dengan apa yang kita harapkan,” ujar Pius Lustrilanang saat menjadi keynote speaker pada kuliah umum dan bedah buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999, di aula Universitas IBA Palembang, Jumat (27/1).

Pius menjelaskan bahwa intisari buku menjelaskan tentang kegigihan anak-anak muda di zaman itu. “Mereka mempunyai idealisme, memiliki militansi dan punya keinginan untuk berkolaborasi bersama,” ujar Pius.

Dari fakta yang terjadi selama sekitar 20 tahun itu, kata Pius, mereka mampu membangun jaringan perlawanan secara bekerjasama antara mahasiswa, LSM, partai politik, dan para oposisi.

Menurut Pius, anak muda di zaman apapun akan tetap memiliki kekritisan terhadap apa yang terjadi. “Saya percaya, pada saat diperlukan, mereka akan terpanggil untuk turun ke jalan. Sebab gerakan mahasiswa itu senantiasa akan menjadi gerakan moral,” ucapnya.

Menjawab pertanyaan terkait aktivitas pemuda saat ini, Pius, mengatakan para pemuda sudah berkontribusi untuk bangsa ini, sesuai dengan bidangnya masing-masing.

“Contohnya, untuk aktivis di lingkup kekuasaan, misalnya di lingkungan legislatif, mereka berjuang untuk undang-undang yang demokratis. Tapi perjuangan mereka tidak seheroik seperti yang membawa spanduk atau poster di jalanan,” katanya.

Sementara itu, rektor Universitas IBA Palembang Dr Tarech Rasyid MSi, menambahkan bahwa jika diperhatikan dari kuliah umum Pius Lustrilanang, bisa disimpulkan dari berbagai negara termasuk Indonesia, perubahan situasi politik dilakukan anak-anak muda. Khususnya mahasiswa di Indonesia termasuk di berbagai daerah.

“Setiap perubahan selalu disertai peran anak-anak muda. Itu terlihat dari sejarah kita di tahun 1945, anak-anak muda seperti Soekarno, Hatta, Syahril dan sebagainya, telah mengilustrasi sejarah bangsa kita,” ujar Tarech.

Kemudian, katanya, di tahun 1966, ada Akbar Tandjung dan sebagainya. Sedangkan di tahun 1974 ada tokoh dalam peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974, Hariman Siregar. Pada suasana reformasi itu muncul sejumlah anak muda ketika itu.

Menurut Tarech, demokrasi merupakan cita-cita anak muda di era reformasi. Tapi jika dilihat sekarang ini, demokrasi kita terancam ada tiga isu tiga periode serta adanya penundaan pemilu.

“Ini merupakan ancaman serius. Demokrasi termasuk perpu terhadap Undang-Undang Cipta Kerja. Ini jelas melanggar keputusan Mahkamah Konstitusi. Sebab keadaan ini bertentangan dengan prinsip demokrasi,” ujar Tarech.

Teman-teman (anak-anak muda) yang memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, kata Tarech, mereka akan melihat bagaimana keadaan Republik Indonesia di masa depan.

Dari diskusi itu, katanya, teman-teman mahasiswa dan anak-anak muda terinspirasi untuk meluruskan jalannya republik ini, agar cita-cita berbangsa dan berkeadilan sosial itu dapat terwujud

Setiap mahasiswa di zamannya, selalu ada spirit. Tarech berharap agar mahasiswa bisa melihat seluruh kebijakan politik dan gejala yang ditimbulkan itu, merupakan proses kritisisme mahasiswa sendiri.

“Dengan kata lain, setiap mahasiswa pada zamannya akan melahirkan anak-anak muda yang kritis,” pungkasnya.

laporan ; anto narasoma