Penegakan Hukum Pembakaran Lahan Hutan di Sumsel Menjadi Prioritas

PALEMBANG, SuaraSumselNews | TENTUNYA, penegakan hukum terhadap pembakar hutan dan lahan menjadi prioritas. Selain upaya pencegahan dan pemadaman. Tujuannya berikan efek jera bagi warga yang lain. Supaya mengurungkan rencana membuka lahan dengan cara membakar.

Seperti yang Polres Muaraenim lakukan.
Petugas menangkap tiga pembakar hutan dan lahan di kawasan Gelumbang. Tepatnya, wilayah Dusun I, Desa Payabakal.
“Tiga yang kami tangkap yakni DS, F, dan B. Dua pelaku lain masih dalam pengejaran,” kata Kapolres Muara Enim, AKBP Andi Supriadi SIK SH MH, kemarin.

Kelima pelaku beraksi membakar lahan di lokasi tersebut, Rabu (31/5) sore. Sekitar pukul 15.00 WIB. Ada masyarakat yang melapor. Patroli udara Satgas Karhutla lalu mendeteksi lokasi lahan yang terbakar,” terangnya.

Kemudian, tim darat gabungan BPBD, Manggala Agni bersama anggota kepolisian dan TNI bergerak cepat ke lokasi. Menyergap pelaku, bahu membahu memadamkan kebakaran lahan itu. “Berdasarkan hasil pemeriksaan, para pelaku akan membuka lahan perkebunan seluas 4 hektare,” beber AKBP Andi.

Mereka membakar tumpukan kayu, ranting, daun hingga rumput di lahan yang dibuka. Kemudian dibakar menggunakan ban sepeda motor bekas agar api tidak mudah padam.

Tumpukan tersebut ada beberapa titik. Saat para pelaku melihat helikopter melintas dan kedatangan satgas darat, mereka berusaha memadamkan apinya.
Dengan temuan barang bukti di lokasi, tiga pelaku yang tertangkap statusnya naik jadi tersangka. Ketiganya dijerat pasal 108 jo pasal 56 ayat 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan dan/atau pasal 187 ayat 1 KUHP. “Ancaman hukumannya kurungan 10 tahun,” tegas AKBP Andi.

Sebelumnya, Februari 2023, Polres Muaraenim juga sudah menangani kasus karhutla di Desa Air Cekdam, Kecamatan Rambang Niru. Tersangkanya Ahmad Fadil. “Jadi selama tahun 2023 ini sudah menangani dua perkara karhutla dengan total empat tersangka,” jelas dia.

Masyarakat kembali diimbau tidak membakar hutan dan lahan. “Kita belajar dari pengalaman masa lalu. Bencana asap 2015, lalu karhutla 2018 dan 2019. Asap karhutla ke mana-mana. Mengganggu aktivitas kita semua,” pungkasnya.

Selainnitu jajaran Polres OKU juga menangkap seorang warga pembakar lahan. R (31), asal Martapura, OKU Timur. Kedapatan bakar lahan di koordinat 4056944, 104.238333 wilayah Desa Talang Tanjung Sari, Kecamatan Lubuk Batang.

“Belum jadi tersangka. Pelaku kooperatif dan sudah memenuhi panggilan,” kata Kapolres OKU AKBP Arif Harsono didampingi Kasat Reskrim Polres OKU, AKP Zanzibar.

“Beda dengan saat kejadian di Muba saat pelaku memang tertangkap tangan oleh tim yang patroli saat lagi membakar lahan. Kalau yang ini tidak ada saksi,” ujarnya.

Tapi pelaku mengaku menebang pohon yang ada di sekitar lokasi dengan chainsaw. Kemudian dikumpulkan pada beberapa titik untuk kemudian dibakar. Polisi menemukan dua botol oli, ember dan jeriken.

Selain ancaman pidana 15 tahun jika membahayakan  nyawa orang lain atau 20 tahun jika menyebabkan orang lain kehilangan nyawa, ada juga aturan lain dalam Undang-Undang 32 Tahun 2009 Pasal 106. Pelaku pembakar lahan ancaman pidananya paling singkat tiga tahun dan paling lama 10 tahun, serta denda  Rp3-10 miliar.

Kapolres OKI, AKBP Diliyanto SIK SH MH menegaskan, ancaman bagi siapa saja yang sengaja membakar lahan dan hutan dijerat Pasal 78 ayat 3 UU RI Tahun 1999  dengan pidana penjara 15 tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar.”Jadi, jangan membakar lahan. Itu kuncinya,” tegasnya.

Saat ini, patrol udara dan darat terus memonitor adanya karhutla. Jajaran BPBD Kabupaten Empat Lawang juga siaga. Walau pun termasuk daerah minim karhutla.

“Empat Lawang termasuk daerah potensi rendah karhutla karena sedikit lahan gambutnya,” kata Kepala BPBD Empat Lawang, Syahrial Podril.

Namun, tetap ada titik yang rawan kebakaran baik hutan, lahan, maupun bangunan.Yakni daerah Muara Pinang, Tebing Tinggi, hingga Pendopo.

“Tim sudah kami siaga 24 jam,” tukasnya.

Sebelumnya, 26 Mei lalu, terjadi karhutla di Desa Tanjung Pasir, Ogan Ilir. “Karhutla terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, luasnya 1 hektare,” ujar kepala BPBD Ogan Ilir, Edi Rahmat.

Pihaknya bersama personel Polsek Pemulutan, TNI dan Manggala Agni mendatangi titik itu.Yang terbakar berupa vegetasi ranting dan pohon. Upaya pemadaman dibantu dengan helikopter waterbombing.

Rupanya, sudah lebih dulu beberapa warga sedang berusaha memadamkan kebakaran lahan tersebut. Salah satunya Said (47), warga Tanjung Pasir.Keterangan Said, lahan yang terbakar bukan miliknya.

Tapi punya warga Bangka Belitung. Dia hanya penjaga lahan itu dan dipekerjakan untuk membuka lahan.

“Pada saat kejadian kebakaran tersebut, saksi hendak mengantarkan makanan kepada operator ekskavator. Tapi dari jauh melihat dua orang sedang membakar tumpukan pohon dan ranting pada lahan yang sudah dibukanya. Begitu didekati, keduanya kabur,” jelasnya.

Hingga saat ini, sudah 16.5 hektare lahan terbakar di Ogan Ilir.:”]Berapa pun kecil lahannya, tidak boleh dibakar. Satgas udara terus memantau lewat patrol rutin,” jelasnya.

Jika dibakar, tapi ditunggui sampai padam mungkin masih bisa ditolerir. “ang celaka ini kan dibakar ditinggalkan, akhirnya meluas,” terangnya.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori, mengatakan, saat ini memang terjadi peningkatan hotspot yang signifikan. Hotspot terbanyak terpantau pada April, 227 titik.

Sedangkan Januari hanya 54 titik, Februari ada 43 titik, dan Maret sebanyak 91 titik.

Saat ini, ucap Ansori, seluruh wilayah Sumsel berpotensi karhutla.Terutama daerah-daerah yang mempunyai lahan gambut. “Daerah yang paling berpotensi karhutla yakni OKI, Muba, Banyuasin, PALI dan Muara , tegasnya.(**/se)