oleh

Menyongsong Indonesia Menuju Negara Industri Tahun 2030

Oleh : Michelle Handoko

INDONESIA merupakan salah satu negara yang diprediksikan perekonomiannya akan sangat meningkat pada tahun 2030. Salah satu penyebab pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan industri yang sangat meningkat. Seperti yang telah dituliskan di Making Indonesia 4.0 diharapkan pada tahun 2030 dapat menjadi negara dengan pendapatan nasional paling tinggi di Dunia pada nomor 10.

Diperkirakan hal ini didukung oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat yang mencapai angka 55% lalu juga diharapkan investasi bertumbuh sebesar 36% sedangkan net export diharapkan menjadi 0% yang berarti Indonesia dapat diharapkan untuk menambah ekspornya. Hal ini dapat diwujudkan dengan Indonesia menjadi negara industri. Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan zaman membuat banyaknya perubahan khususnya dalam teknologi.

Industri dan teknologi tidak dapat pisahkan dari revolusi industri pertama yang disebabkan oleh kemunculan teknologi baru yang bernama mesin uap yang berkembang menjadi banyak mesin yang mempermudah pekerjaan mesin manusia. Perkembangan industri 4.0 bukanlah sebuah rahasia umum dikarenakan banyak negara maju sudah memasuki era ini.

Sebagai pengantar industri 4.0 merupakan perubahan dari cara kerja yang didasarkan oleh cloud dan internet. Jerman merupakan salah satu negara pionir dalam industri 4.0 yang di dalam kegiatan ekonominya sudah bertumpu pada digitalisasi, beberapa perusahaan asal Jerman sudah menerapkan perusahaan yang berbasis internet dengan membangun blockchain dan inisiasi AI ( Artificial Intelligence ) dalam mendukung perkembangan industri 4.0 ini sendiri.

Tidak hanya Jerman, Jepang sendiri sudah sangat terkenal dengan perkembangan teknologinya sehingga hal ini bukanlah tantangan yang berarti untuk negara ini, namun dikarenakan populasi tua yang di masa depan akan mendominasi negara tersebut sehingga Jepang menginisiasikan sebuah program “Society 5.0” yaitu suatu peradaban yang dihubungkan oleh big data yang dikaitkan dengan internet yang membuat satu sama lain dapat terhubung dengan mudah, hal ini juga mencakup dalam penggunaan AI yang dapat membantu manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Setelah melihat beberapa contoh inisiasi yang dilakukan oleh kedua negara tersebut dapat kita simpulkan internet, big data, dan blockchain merupakan hal yang sangat penting pada era industri 4.0. Big data merupakan data yang sangat besar dan banyak yang mencakup segala informasi kita sebagai manusia baik dari informasi dasar sampai kebiasaan kita, agar dapat menampung data yang sangat besar ini agar dapat memprediksikan kemungkinan yang akan terjadi diperlukan juga teknologi bernama cloud yang digunakan untuk menyimpan data yang sangat besar ini.

BACA JUGA:  Warga Rantau Bayur Berharap Bantuan dari Gubernur Sumsel

Lalu mengetahui data ini sangatlah penting dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sangatlah penting untuk memiliki blockchain yang didalamnya dapat digunakan untuk menyimpan data dengan sangat aman, beberapa ahli berpendapat bahwa blockchain sangatlah susah untuk ditembus oleh hacker handal sekalipun yang membuat teknologi blockchain sangatlah penting. Namun untuk menghubungkan segala hal tersebut diperlukan internet sehingga teknologi-teknologi tersebut dapat dipakai sesuai fungsinya.

Indonesia sendiri sangat memahami akan pentingnya hal-hal tersebut sehingga untuk mencapai industri 4.0 ini, Indonesia berencana untuk membangun infrastruktur digital nasional dengan mempercepat pembangunan infrastruktur digital yang di dalamnya terdapat internet yang cepat dan digital capabilities.

Indonesia juga berencana untuk membangun cloud yang dibantu oleh pihak swasta. Menteri Perindustrian Indonesia, Airlangga Hartanto berpendapat bahwa industri 4.0 sangat menguntungkan bagi perekonomian Indonesia khususnya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan IKM (Industri Kecil Menengah) sebesar 12%-15% dikarenakan kenaikan efisiensi dan pengurangan biaya dikarenakan adanya industri 4.0. Salah satu langkah pertama yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian Indonesia adalah mempercepat langkah digitalisasi atau proses mengubah sesuatu yang tidak non-digital menjadi digital dan program yang saat ini dijalankan oleh pemerintah adalah penyuluhan E-Smart IKM dan E-Smart UMKM dengan cara menyuluhkan kepada pelaku ekonomi untuk memaksimalkan penggunaan big data dan teknologi digital lainnya seperti internet untuk mempermudah pelaku ekonomi kecil untuk menjajakan produknya di market place dan membuat pelaku ekonomi dapat mendapatkan penyalur bahan baku yang lebih mudah dan lebih terjadwal dikarenakan adanya teknologi tersebut. Lalu harapan dari adanya digitalisasi ini dapat mempermudah para pelaku ekonomi kecil untuk menembus pasar internasional yang diharapkan dapat menaikan ekspor Indonesia.

Seiringnya perkembangan zaman dan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2020 sudah ada 66% dari total penduduk Indonesia yang memanfaatkan e-commerce yang ada sehingga hal ini sangatlah menjanjikan bagi pelaku ekonomi untuk memasuki pasar ini. Diprediksikan pada tahun 2023 terdapat 75% penduduk Indonesia yang sudah memanfaatkan e-commerce. Para pendiri e-commerce lokal seperti tokopedia sendiri sangat mendukung gerakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mendigitalisasi UMKM dengan cara memberikan kemudahan untuk bertransaksi dan memberikan label tanda sebagai produk lokal agar konsumen tertarik. Tokopedia juga membantu pemerintah dengan cara memberikan beberapa sosialisasi kepada UMKM untuk go-digital.

Selain memompa disisi pasar, pemerintah juga merencanakan untuk memberikan kemudahan kredit untuk menambah investasi sumber daya manusia maupun barang modal yang dapat berdampak dengan produktivitas dengan mengembangkan P2P Lending. P2P Lending merupakan suatu konsep dimana mempertemukan debitur dan kreditur melewati teknologi internet. Hal tersebut sebenarnya sudah ada di Indonesia namun pemakaiannya masih belum maksimal baru sekitar 40% P2P Lending yang dimanfaatkan oleh UMKM pada tahun 2018. Jika hal ini dimanfaatkan dengan baik maka tentunya akan mendongkrak perekonomian Indonesia dalam sisi produktivitas dan investasi.

BACA JUGA:  Ironis Kenyataannya, Jalan Diknas, ULP PLN dan BPS Rusak Parah

Indonesia sebagai negara industri pada tahun 2030 tentunya dapat menjadi kenyataan seperti yang ada dalam Making Indonesia 4.0. Diakibatkan COVID-19 tanpa sadar tingkat digitalisasi meningkat dengan pesat dikarenakan adanya perubahan gaya hidup yang diakibatkan oleh pandemi ini. Langkah-langkah besar yang dilakukan oleh pemerintah juga semakin mempercepat adanya revolusi industri 4.0 ini sendiri.

Perubahan yang mendadak ini dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah Indonesia untuk memaksimalkan perkembangan digitalisasi, pada tahun 2020 pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 73.7% dari total penduduk jika pemerintah terus mendorong percepatan dan pengembangan infrastruktur digital agar merata tentunya Indonesia sebagai negara Industri bukanlah mimpi belaka saja melainkan realita yang ada di depan mata kita. Dalam pengembangan infrastruktur digital sendiri Indonesia sudah meluncurkan jaringan internet 5G pada 27 Mei 2021 walaupun hanya sebagian penyedia jasa komunikasi yang dapat menggunakan jaringan ini. Namun peluncuran jaringan 5G sendiri dapat dinilai terlambat dengan negara-negara maju, seperti contoh Korea Selatan telah meluncurkan jaringan 5G pada tahun 2019, Indonesia terlambat 2 tahun untuk merasakan jaringan internet yang lebih cepat dan tentunya ini dapat menghambat perkembangan digitalisasi yang ada.

Selain berfokus pada perkembangan digitalisasi, pemerintah Indonesia juga mencoba mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Dalam negara Industri sangat diperlukan masyarakat yang memiliki kesempatan yang tinggi. Didasari juga dengan bonus demografi Indonesia yang mungkin terjadi pada tahun 2030-2040 membuat sebuah kesempatan dan tantangan dikarenakan banyaknya angkatan kerja yang tersedia, untuk mengurangi pengangguran yang ada maka pemerintah Indonesia mulai melakukan banyak strategi salah satunya program wajib belajar, Indonesia berencana untuk melakukan program wajib belajar selama 12 tahun yang diharapkan nanti para pelajar dapat menambah kemampuan lebih.

Indonesia juga sangat mendukung program vokasi dan membuat program vokasi Indonesia yang ditujukan untuk para angkatan kerja yang tidak bekerja atau di-PHK untuk mengikuti program vokasi yang dapat meningkatkan kemampuan yang diharapkan dapat memperbesar kesempatan untuk dipekerjakan. Selain itu pemerintah juga secara rutin mengadakan pelatihan-pelatihan untuk para masyarakat melalui BLK (Balai Latihan Kerja), dengan adanya BLK mengurangi pengangguran dan menaikan perekonomian daerah sekitar. Perlu diingat kembali saat adanya revolusi 4.0 orang-orang yang tidak memiliki kemampuan yang lebih atau tidak memiliki kemampuan adaptasi yang cepat dapat tersingkirkan yang membuat masalah baru dalam suatu negara sehingga sangatlah penting pembangunan karakter dan kemampuan masyarakat Indonesia agar dapat bersaing pada negara industri yang didambakan oleh Indonesia.

BACA JUGA:  Dengan Rakerda PKK, Ayo Sinergikan Program Pemkab Ogan Ilir

Jadi, dalam mewujudkan negara industri dibutuhkan banyak hal untuk mencapai hal tersebut. Internet sendiri merupakan hal yang sangat penting pada saat industri 4.0 yang berguna sebagai penghubung dari seluruh teknologi yang ada. Indonesia sendiri untuk mencapai negara industri pada tahun 2030 telah melakukan banyak hal seperti memperluas jaringan internet menjadi 5G, digitalisasi UMKM, dan pelatihan sumber daya manusia.

Jika hal tersebut terus dilaksanakan dan terus dipacu maka Indonesia dapat mencapai hal tersebut. Namun perlu diingat bahwa dunia terus berubah sehingga peraturan yang monoton tidak ada berhasil dikarenakan perubahan yang terjadi sangatlah cepat dan tidak dapat diprediksi seperti contoh COVID-19. Saya menyarankan kepada pemerintah bahwa akan lebih baik untuk membuat peraturan yang lebih fleksibel dan adaptif agar kita dapat mencapai Indonesia 4.0 pada tahun 2030, lalu tidak lupa pemerintah juga dapat memanfaatkan para unicorn lokal yang ada sebagai rangka mencapai hal tersebut dikarenakan perusahaan-perusahaan digital besar tentunya memiliki teknologi yang lebih maju daripada pemerintah sehingga pemerintah dapat belajar dan meminta kerja sama untuk membangun cloud besar yang berisikan big data dari masyarakat Indonesia untuk mempermudah melihat pergerakan dan kebiasaan warga Indonesia.
Daftar Pustaka

Arianto, B. (2020). Pengembangan UMKM Digital di Masa Pandemi Covid-19. ATRABIS: Jurnal Administrasi Bisnis, 6, 233-247.
Arrizal, N. Z., & Sofyantoro, S. (2020). Pemberdayaan Ekonomi Kreatif dan UMKM di Masa Pandemi Melalui Digitalisasi. Birokrasi Pancasila: Jurnal Pemerintahan, Pembangunan dan Inovasi Daerah, 2, 39-48.
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2019). Making Indonesia 4.0. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Julianto, P. A. (2017, May 14). Ini Strategi Indonesia Masuk Revolusi Industri 4.0. Retrieved July 12 , 2021 , from Money Kompas: https://money.kompas.com/read/2017/05/14/160000326/ini.strategi.indonesia.masuk.revolusi.industri.4.0?page=all
The Government of Japan. (2019). Realizing Society 5.0. The Government of Japan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.