Massa Presidium Jaringan Aksi ’98’ Sumsel Demo, Ini Penjelasan ACC Finance Palembang

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Sejumlah massa gabungan yang tergabung dalam Presidium Jaringan Aksi “98” Sumatera Selatan geruduk kantor ACC Finance Veteran, Jumat (3/5/2024).

Kedatangan para pendemo untuk menuntut terkait pengambilan paksa mobil customer jenis Toyota Avanza BG 1503 R atas nama Reffialandri (20).

Koordinator Aksi Ramogers, SH, Muhammad Ali, SE, M.Si, Bambang Purnomo, Mukri, Supratman Suryadi, Irawan Van Maryyi (ambon), Junaidi, Rizki Pratama ST mengatakan, Presidium jaringan aksi “98” Sumatera Selatan melakukan aksi solidaritas untuk melindungi hak konsumen, setelah memperhatikan secara seksama apa yang dilakukan leasing ACC telah mengangkangi peraturan Kapolri (Perkap) No 8 tahun 2011 tentang pengamanan eksekusi jaminan fidusia.

Lanjutnya, ini dilakukan untuk mengantisipasi tindak kekerasan terhadap nasabah atau debitur, karena seringkali terjadi kekerasan yang dilakukan oleh debt kolektor terhadap debitur yang tidak bisa membayar kewajibannya seperti: Penarikan sepeda motor dan mobil, kasus penarikan paksa kendaraan yang dilakukan debt kolektor ini membuat resah.

“Hal ini menjadi atensi bagi Polda sumsel untuk melakukan penegakkan hukum, selain itu juga terjadi perampasan yang dilakukan oknum debt kolektor pada mobil avanza tipe E tahun 2018 warna silver BG 1503 R dimana setelah dilakukan pengecekkan, mobil tersebut sudah dipool penitipan mobil jambi,” tandasnya.

Koordinator Lapangan Anton, Jack, Mursidah menambahkan, menduga Debt kolektor mengaku atas nama, leasing ACC jika melakukan pengambilan dijalan merupakan tindak pidana perampasan dan bisa dijerat pasal 368, pasal 365 KUHP ayat 2,3 & 4 junto.

Penarikan Bagian Prosedur

Sementara Kepala Cabang ACC Finance Palembang, Aji Saputra, mengungkapkan bahwa kantor pusat dan wilayah terkait telah mengeskalisasi masalah tunggakan ini hingga terjadi penarikan unit mobil di Provinsi Jambi.

“Penarikan ini merupakan bagian dari prosedur penanganan tunggakan pembayaran kredit,” jelas Aji.

Dalam responsnya terhadap kejadian ini, pihak keluarga nasabah merasa keberatan dan mengadukan situasi tersebut ke ACC Finance.

“Kami saat ini sedang mengajukan banding ke pihak asuransi karena terdapat perubahan jabatan yang membuat pejabat baru kami belum menguasai detail kasus tersebut,” bebernya.

Hari ini, ACC Finance telah mengundang perwakilan asuransi untuk membahas masalah ini, mempertimbangkan bahwa kontrak kredit melibatkan tiga pihak: nasabah, ACC Finance, dan asuransi.

“Ada perjanjian yang seharusnya menjamin kredit nasabah jika terjadi apa-apa, namun klaim sebelumnya ditolak oleh asuransi,” jelas Aji.

Menurutnya, bahwa ACC Finance membutuhkan waktu lebih untuk mendapatkan respons dari asuransi mengenai aduan terbaru dari pihak nasabah.

Terkait penarikan unit, dia menegaskan bahwa tidak ada perintah khusus dari ACC Finance. “Ini adalah eksekusi jaminan fidusia karena ada tunggakan kredit,” ungkapnya.

Selama periode tunggakan kredit yang panjang ini, ACC Finance telah mengirimkan beberapa Surat Peringatan hingga SP3 kepada nasabah, yang sayangnya tidak direspons.

Saat ini, ACC Finance sedang koordinasi intensif dengan pihak asuransi untuk memahami alasan penolakan klaim asuransi tersebut.

Menanggapi keluhan prosedur penarikan unit yang dianggap tidak tepat oleh nasabah, Aji memastikan bahwa ACC Finance sedang meneliti insiden tersebut secara mendalam.

“Jika ada ketidakpuasan dari pihak nasabah dan terjadi pelanggaran hukum saat penarikan unit, kami sangat terbuka untuk proses hukum berjalan di kepolisian dan siap menjadi saksi serta melengkapi dokumen yang diperlukan,” tutupnya. (ril/Manda)