KAYUAGUNG, SuaraSumselNrws | KONGRES Sumpah Pemuda terjadi 93 tahun lalu dan menjadi titik awal pergerakan perjuangan bagi anak-anak muda Indonesia pada masa itu.
Kini setelah 93 tahun berlalu, konteks Sumpah Pemuda telah melebar, bukan lagi soal bagaimana melakukan gerakan kemerdekaan, tetapi lebih cenderung melihat peran anak muda milenial untuk turut serta membangun daerahnya.
Rendi, M,Pd, satu dari sekian banyak anak muda di Desa Muara Batun, Kecamatan Jejawi, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencoba mengaplikasikan arti Sumpah Pemuda dengan cara berkontribusi di desa kelahirannya.
“Di desa saya ini masih banyak masyarakat disini yang bekerja sebagai petani, buruh, dan penghasilan mereka belum seberapa. Jangankan untuk menyekolahkan anak-anak mereka hingga menjadi sarjana, buat makan saja terbilang sangat pas-pasan,” ujar Rendi saat dibincangi media ini, Sabtu, (10/7)
Rendi beruntung, ia menjadi satu dari sekian banyak anak-anak muda di desa itu yang bisa menempuh pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.
“Kehidupan kami di desa ini masih serba terbatas. Kami belum memiliki fasilitas umum dan fasilitas khusus yang baik seperti desa-desa lain pada umumnya.
Inilah yang mendasari saya untuk maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Muara Batun Ini. Saya ingin mendirikan Rumah Belajar Inspirasi di Desa ini,” ujar Rendi.
Rumah belajar inspirasi ini akan menjadi salah satu langkah Rendi untuk mengenalkan dunia luar kepada anak-anak di kampungnya untuk memotivasi mereka agar mau menimba ilmu pengetahuan hingga kejenjang tertinggi.
Pilihan Rendi untuk mengabdi dengan mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di desa tempat tinggalnya, adalah menjadi cerminan bahwa peran anak muda sangat dibutuhkan di daerah.(den)




