PALEMBANG, SuaraSumselNews – DIKETAHUI jumlah hotspot (titik panas) di Sumatera Selatan sepanjang Januari hingga 15 Juni 2026 mencapai 1.502 titik. Dari total tersebut, wilayah Muara Enim dan Lahat menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan hotspot di Muara Enim terdeteksi sebanyak 303 titik dan Lahat 283 titik. Lonjakan hotspot mulai terlihat sejak Mei hingga pertengahan Juni 2026, seiring masuknya musim kemarau di Sumsel.
Bahkan, sepanjang Mei 2026 tercatat sebanyak 708 hotspot atau menjadi jumlah tertinggi untuk periode bulan Mei sejak 2015. Sementara pada periode 1-15 Juni 2026, jumlah hotspot kembali mencapai 408 titik.
“Memasuki musim kemarau, potensi kemunculan hotspot memang meningkat. Karena itu seluruh daerah, khususnya wilayah yang selama ini rawan karhutla, harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar Sudirman, awal pekan kemarin.
Hanya saja, hingga kini baru lima daerah di Sumsel yang menetapkan status siaga. Sementara wilayah rawan karhutla lainnya belum menaikkan status menjadi siaga.
“Status siaga karhutla masih di lima daerah, Muara Enim, Banyuasin, Muba, Ogan Ilir, dan OKI. Tapi, status siaga sudah kita tetapkan juga di tingkat provinsi,” katanya.
Karhutla di Muba dan PALI, Helikopter Lakukan 20 Kali Water Bombing
Sementara wilayah rawan karhutla lainnya, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, dan OKU Selatan, hingga saat ini masih berproses untuk menetapkannya.
“Mungkin karena di beberapa daerah masih ada hujan, sehingga kepala daerahnya belum menetapkan status siaga. Status itu tergantung dari kepala daerahnya,” ungkapnya.
Di Muba, hotspot yang terdeteksi hingga kini sebanyak 167 titik, Muratara 155 titik, dan Mura 128 titik. Sementara wilayah lain hanya terpantau puluhan titik, kecuali di Lubuklinggau 12 titik dan Pagar Alam 4 titik.
Menurutnya, tren peningkatan hotspot pada Mei dan Juni menjadi sinyal yang perlu diwaspadai pemda. Sebab, kondisi cuaca yang semakin kering dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Dia menilai, keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang harus segera diverifikasi di lapangan agar dapat diketahui apakah terdapat aktivitas pembakaran atau karhutla.
“Hotspot merupakan indikator awal. Setiap titik yang terpantau harus segera dicek agar dapat dipastikan kondisi di lapangan dan dilakukan langkah penanganan lebih cepat bila ditemukan kebakaran,” katanya. (*)




