Doa Bersama Lima Jurnalis yang Hilang di Perairan Krakatau

PALEMBANG, SuaraSumselNews – Sudah lebih sepekan kabar lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang kontak saat menjalankan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sampai saat ini masih belum diketahui. Nyatanta hingga Selasa (15/9), delapan orang tersebut masih dalam pencarian.

Ya, di tengah upaya pencarian yang terus dilakukan, solidaritas sesama insan pers mengalir dari Sumatera Selatan. Forum Jurnalis Sumsel (FJS) bersama sejumlah organisasi jurnalis menggelar doa bersama di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang.
Doa bersama tersebut dipanjatkan sebagai bentuk solidaritas sekaligus harapan agar delapan orang yang masih dalam pencarian segera ditemukan dalam kondisi selamat dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palembang, R.M. Resha A. Usman, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik.

Menurutnya, kabar hilangnya para jurnalis tersebut menjadi duka bagi insan pers, terlebih mereka tengah berada di lapangan untuk menjalankan tugas.

“Kami di sini sebagai bentuk solidaritas, turut mendoakan agar mereka bisa kembali dalam keadaan selamat. Kami harap mereka pulang,” ujar Resha.

Namun, selain mendoakan rekan-rekan yang masih dalam pencarian, Resha juga mengingatkan pentingnya keselamatan bagi jurnalis ketika menjalankan tugas di wilayah berisiko.

Ia mengajak para wartawan membangun kebiasaan untuk saling menjaga dan selalu memberi tahu rekan sesama jurnalis ketika hendak menuju lokasi bencana maupun wilayah yang memiliki potensi bahaya.

“Pesan kami, saling jaga. Kalau kita berangkat ke tempat bencana, berangkat ke mana yang berpotensi berbahaya, kita harus memberitahu rekan-rekan kita,” katanya.

Menurut Resha, kebiasaan sederhana tersebut dapat menjadi sangat penting ketika terjadi situasi darurat. Informasi mengenai keberadaan seorang jurnalis dapat membantu rekan maupun pihak lain dalam melakukan pencarian dan meminta pertolongan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Jurnalis senior Sumsel, Oktaf Riyadi, mengatakan doa bersama merupakan bentuk ikhtiar dan harapan agar seluruh orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan.

“Kita mengadakan doa bersama hari ini. Teman-teman dari Forum Jurnalis Sumatera Selatan, dari PWI, AJI, PFI, AMSI dan lain-lain sama-sama berharap teman kita kembali,” ujarnya.

Oktaf mengakui setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk profesi jurnalistik. Namun, risiko tersebut harus diperhitungkan secara matang, terutama ketika wartawan mendapat penugasan di wilayah yang memiliki potensi bahaya.

Menurutnya, keinginan menghasilkan berita terbaik tidak boleh mengalahkan faktor keselamatan.

“Berita, pengen dapat yang terbaik, dapat pujian dari kantor dan lain-lain. Atasan pun, pimpinan kita pun, cari berita yang sebaik-baiknya, tapi nomor satu tetap keselamatan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan jurnalis bukan hanya menjadi tanggung jawab wartawan yang berada di lapangan. Pimpinan media memiliki peran penting dalam mempertimbangkan kondisi dan tingkat risiko sebelum mengirim wartawan ke suatu lokasi.
“Pimpinan juga harus melihat, ini bahaya nggak kalau kita kirim wartawan kita. Itu harus dipertimbangkan,” katanya.

Menurut Oktaf, prinsip keselamatan tersebut berlaku bagi seluruh jurnalis, baik wartawan tulis, wartawan foto maupun jurnalis yang menjalankan tugas investigasi.

Keinginan mendapatkan berita terbaik, kata dia, tidak boleh membuat aspek keselamatan diabaikan. “Walaupun berita kita pengen yang terbaik, tapi keselamatan tetap dijaga. Karena itu memang harus dipertimbangkan, apakah ini berbahaya atau tidak,” ungkapnya.

Hingga hari kedelapan pencarian, delapan orang yang masih belum ditemukan terdiri dari tiga awak dan pemandu kapal serta lima jurnalis.
Mereka yakni,
* Warta (55), kapten kapal;
* Surakman (60), ABK;
* Heriyanto (49), guide;
* M. Bagus Khoirunnas (28), jurnalis Antara;
* Ari Basuki (52), jurnalis Merdeka;
* Yudhis (43), jurnalis iNews;
* Daus (42), jurnalis Anadolu; dan
* Donal (51), jurnalis freelance. (*)