Charma Afrianto: Hidupkan Wisata, Wariskan Balai Pertemuan ke Seniman

PALEMBANG, SuaraSumselNews | Kehadiran pemerintah di lingkungan seniman dan budayawan di Sumatera Selatan saat ini memang harus dilakukan. Sebab seniman dan budayawan telah banyak memberikan kontribusinya bagi produk seni ke masyarakat di daerah ini.

Ketua Dewan Pimpinan
Pusat GENCAR Indonesia Charma Afrianto SE, mengatakan bahwa pemerintah harus memberikan kontribusi sarana berkesenian yang diperlukan seniman.

“Di tahun 1980 hingga 1990-an, Palembang memiliki taman budaya yang begitu ideal dari struktur berkesenian. Sayangnya, sarana itu dibumihanguskan sehingga seniman dan budayawan kehilangan tempat membangun kreativitasnya,” tegas Charma Afrianto kepada wartawan media ini, di ruang kerjanya, Kamis (20/1/2023).

Padahal, kata Charma, para seniman Sumsel sudah ada yang mendapat penghargaan secara internasional. “Ada di antara sastrawan dan penyair Sumsel yang sudah mendapat sertifikasi secara internasional,” ujarnya.

Menurut Charma, alangkah sayangnya karir dan reputasi seniman Sumsel yang tak kalah dibanding prestasi seniman dari luar Sumsel itu diabaikan begitu saja.

“Ini yang membanggakan kita,” tegas Charma.

Sebagai tokoh pemuda, Charma melihat bahwa Pemkot Palembang telah membangun sarana wisata di lokasi Benteng Kuto Besak (BKB) di tepian Sungai Musi.

Tujuan pembangunan itu, kata Charma, untuk para pelancong agar bisa menikmati suasana wisata di pinggiran sungai. “Harusnya seniman dan budayawannya dulu yang difasilitasi sarana berkesenian oleh pemerintah,” tegasnya.

Misalnya, para seniman diberikan ruang latihan dan tempat pementasan seperti di Taman Ismail Marzuki (TIM) seperti di Jakarta. Apakah Palembang bisa menyediakan fasilitas itu?

“Kenapa tidak? Coba pasilitas gedung Balai Pertemuan yang ada di kawasan BKB. Mengapa tidak dikelola para seniman dan budayawan daerah ini?” katanya.

Apabila dikelola bagi pemberdayaan seni budaya, kata Charma, niscaya lokasi BKB itu akan terkesan lebih semarak dengan produk budaya, seperti adanya tari-tarian, baca puisi, pentas teater, serta bersenandung dengan nada-nada musik dari para seniman musik.

Jika suasana ini sudah tercipta dengan baik, katanya, maka kehidupan seniman bakal semakin baik. “Jangan biarkan kehidupan seniman kita berada di bawah garis hidup yang sejahtera,” imbuhnya.

Maka itu Charma mengimbau Pemerintah Kota Palembang untuk terpanggil di dalam kepentingan itu. Sebab dunia kepariwisataan akan lebih hidup jika didukung oleh kreativitas para seniman dan budayawan. (*)

Laporan Anto Narasoma