oleh

Adanya Pelabuhan Tanjung Carat Membangkitkan Ekonomi Sumsel

PALEMBANG, SuaraSumselNews | HADIRNYA pelabuhan laut sudah lama diidambakan masyarakat Sumatera Selatan. Keinginan ini bahkan sudah didengung-degungkan sejak tahun 90-an.

Setelah sekian lama, mungkin baru tahun ini provinsi penghasil komoditas ekspor karet, sawit dan batu bara mendapatkan titik terang.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menjamin peletakan batu pertama (groundbreaking) Pelabuhan Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin akan dilakukan pada akhir Juni 2022, setelah sempat molor dari jadwal semula pada akhir tahun 2021.

“Saya berharap Pelabuhan Tanjung Carat ini tak ditunda lagi,” kata Herman Deru saat berjumpa dengan Menteri BUMN Erick Thohir di Palembang, Minggu lalu (19/6).

Pembangunan pelabuhan akan segera dimulai seiring dengan mulai rampungnya izin pembebasan lahan di Banyuasin, Sumsel.

Ia tak menyangkal penyediaan lahan menjadi yang paling krusial dalam pembangunan pelabuhan ini karena proyek ini berada di kawasan hutan.

Setidaknya lahan seluas 60 hektare harus dibebaskan agar tidak menjadi persoalan di kemudian hari. “Tentunya ini memakan waktu yang panjang, tapi kami berupaya melakukan percepatan,” kata gubernur.

Sebagai kepala daerah, Herman Deru juga meminta para putra daerah asal Sumsel yang saat ini menduduki jabatan kabinet Indonesia Bersatu turut mengawal mega proyek ini.

BACA JUGA:  Kembali, OKI Juarai Jambore Pemuda Sumsel Tahun 2022

Banyak kesempatan, ia mengaku melakukan lobi ke berbagai pihak agar pelabuhan yang sudah lama dicita-citakan masyarakat Sumsel ini dapat segera terwujud.

Infrastruktur ini sangat dibutuhkan karena dianggap menjadi solusi jangka pendek dan jangka panjang bagi daerah berpenduduk sekitar 9 juta jiwa ini.

Sumsel dikenal sebagai provinsi kaya penghasil karet, sawit, batu bara tak kunjung mampu membuat petaninya sejahtera. Ini lantaran harga komoditas ekspor yang diterima petani tersedot oleh tingginya biaya transportasi.

Sumsel selama ini hanya bertumpu pada pelabuhan sungai Pelabuhan Boom Baru yang berada di tengah Kota Palembang. Layaknya pelabuhan sungai, maka kapal-kapal yang bersandar hanya berukuran kecil. Belum lagi, persoalan pendangkalan alur sungai.

Tak hanya itu, draf kapal pun dibatasi maksimal 6 meter sehingga hanya 40 persen kapasitas angkut yang terpakai.

“Kapal besar pun cuma bisa mengangkut 8 ribu ton atau 40 persen dari kapasitas, sementara ongkosnya disamakan dengan mengangkut 20 ribu ton,” kata Herman Deru.
PENDANAAN
Sejauh ini proyek pelabuhan laut dalam itu sudah mendapatkan persetujuan masuk dalam Proyek Strategis Nasional.

Semula Presiden Jokowi menargetkan Pelabuhan Tanjung Carat ini groundbreaking pada akhir 2022, namun karena persoalan penyediaan lahan membuat target ini tak tercapai.

BACA JUGA:  Jelang Porwanas Malang, Percasi Sumsel Siap Support PWI Sumsel

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pemerintah pusat sudah memberikan arahan terkait pendanaan proyek pelabuhan internasional tersebut.

Pembangunan pelabuhan itu akan menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) yang melibatkan investor swasta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pemerintah pusat terus mendorong agar pelabuhan samudera ini terwujud yang nantinya diharapkan menjadi gerbang ekspor Sumsel.

Sejauh ini Investor asal China Shanxi International Economic & Technical Cooperative Co Ltd tertarik untuk menanamkan modal pada pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).

General Manager of Shanxi InternationalEconomic & Technical Co Ltd Indonesia Jason Hang setelah mengunjungi kawasan Tanjung Carat, mengatakan pelabuhan ini memiliki lokasi yang sangat strategis sehingga perusahaan menilai layak masuk dalam rencana ekspansi bisnis.

Jason menyatakan ketertarikan perusahaannya untuk berinvestasi di Pelabuhan Tanjung Carat juga didorong adanya sumber daya alam (SDA) yang berlimpah di Sumsel, di antaranya getah karet, kelapa sawit, batu bara, minyak bumi dan gas.

Lokasi pelabuhan laut dalam sebelumnya bukan diproyeksikan di Tanjung Carat tapi di Tanjung Api-Api, yang areanya relatif berdampingan.
Pemindahan ini terkait dengan studi kedalaman laut, yang membuat kesimpulan bahwa Tanjung Carat itu lebih representatif bagi kapal-kapal berukuran besar.

BACA JUGA:  Dekranasda Lestarikan dan Promosikan Budaya Sumsel 

Karena adanya perubahan, maka Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) TAA dipindahkan ke KEK Tanjung Carat agar berdampingan dengan Pelabuhan Laut Tanjung Carat. Terkait ini Presiden Jokowi sudah mencabut status KEK Tanjung Api-Api.
EKONOMI TUMBUH
Kepala Samudera Indonesia Cabang Palembang Iwan Simangunsong mengatakan permintaan ekspor terhadap komoditas asal Sumsel terutama chrome rubber (karet) terbilang tinggi. Bahkan pihaknya kini menjajaki kerja sama untuk pengiriman ekspor arang dan batok kelapa.

Hingga kini, walau di tengah pandemi, perusahaan melayani pengiriman chrome rubber (karet) ke Singapura menggunakan satu unit kapal berkapasitas 6.000 ton atau rata-rata membawa 250 twenty-foot equivalent unit (TEUs).

Perusahaan pelayaran Samudera Indonesia Cabang Palembang sejauh ini menggunakan satu unit kapal kontainer untuk mendukung kegiatan ekspor karet di Sumsel. Bahan setengah jadi berupa karet dalam bentuk lembaran itu dikirimkan ke Singapura untuk kemudian dikirim ke Amerika Serikat hingga ke sejumlah negara di Eropa oleh perusahaan lain.

Dalam satu bulan, perusahaan tersebut melakukan kegiatan ekspedisi ke Singapura sebanyak lima kali, dan proses bongkar muat dilakukan di Pelabuhan Boom Baru Palembang.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.