oleh

OKI Bukan Penyumbang Asap

Satgas Dalkarhutbunlah Tetap Siaga

 

KAYUAGUNG, SuaraSumselNews | BUPATI Ogan Komering Ilir (OKI), H Iskandar, SE mengajak Satuan Tugas Pengendalian Kebakaran Hutan, Kebun dan Lahan (Satgas Dalkarhutbunlah) di OKI tetap siaga.

Hujan yang turun di hampir seluruh wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Selasa kemarin menurut Iskandar memang efektif menurunkan  jumlah titik api (hot spot). Namun bukan berarti status siaga dampak Karhutlah dicabut.

Seharusnya kita sekarang berada dilapangan, namun pertemuan ini penting untuk evaluasi kerja-kerja kita dalam pengendalian Karhutbunlah. ‘’Saya mengajak untuk mengukuhkan semangat dan komitmen mencegah terjadinya lagi kebakaran lahan,” jelas Iskandar usai rakor, Rabu kemarin (25/9).

Diakui Iskandar, kebakaran lahan menjadi preseden buruk bagi Kabupaten OKI. Namun menurutnya, upaya yang dilakukan telah maksimal untuk mencegah maupun menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

“Kalau hot spot kita banyak itu karena luasnya wilayah OKI.Tapi tahun ini berkat ‘keroyokan’ jumlahnya jauh menurun dari tahun 2015 lalu,” ungkapnya.

Iskandar juga menolak anggapan bahwa OKI jadi daerah penyumbang asap. “Ini boleh kita cermati lagi. Apakah asapnya benar dari OKI. Apakah angin itu bertiupnya statis. Tapi tak usah kita cari persolan itu yang penting fokus kita adalah mencegah kebakaran kembali terjadi,” paparnya.

Bahwa kepada perusahaan pemegang konsesi lahan, Iskandar tetap komitmen dalam pencegahan. Tidak hanya di areal HGU juga menjaga radius sekitar.

“Komitmen saudara (perusahaan) bisa dilihat berapa besar anggaran yang disediakan untuk penanggulangan Karhutlah. Sekarang tak perlu diminta cukup kesadaran masing-masing karena akan menjadi catatan bagi Pemkab,’’ tutur Iskandar.

Sementara, Kapolres OKI, AKBP Dony Eka Syaputra menambahkan, dalam penegakan hukum pihaknya telah  menetapkan 11 tersangka pembakar hutan dan lahan dari 8 kejadian berbeda.

Doni mengatakan tidak menutup kemungkinan juga akan ada tersangka koporasi. “Soal penatapan tersangka di OKI paling banyak. Jadi ini kami wanti-wanti, jangan sampai pemegang HGU lalai. Kita akan cek peralatan, SDM nya sesuai atau tidak. Jangan sampai nanti ada upaya pembiaran,” ujar Doni.

Kapolres juga mengingatkan pasca hujan dua hari terakhir, bertambahnya hotspot masih memungkinkan maka upaya keroyokan tetap dimaksimalkan.

Juga, Dandim 0402 OKI/OI, Letkol. Inf Riyandi mengatakan dalam melakukan pencegahan dan pengendalian Karhutlah penting juga melibatkan masyarakat.

“Dibalik framingnya satgas yang membantu masyarakat bukan sebaliknya.” Dengan upaya itu menurut Riyandi upaya penanggulangan efektif dilakukan. Contohnya keberhasilan Satgas dalam menanggulangi titik api desa Sungai Bungin Kecamatan Pangkalan Lampam.

“Kalau kita mau cari pembakar lahan itu sulit tapi kalau masyarakat itu sendiri yang menjaga lahannya, akan meminimalisir kebakaran lahan.

Riyandi juga menyebutkan kebakaran hutan dan lahan bukan karena bencana namun ada ulah manusia. “Ini dugaan kami yang berada dilapangan, kebakaran bukan karena bencana tapi faktor kesengajaan ataupun kelalaian manusia,” tegas Riyandi.

“Fakta dilapangan demikian, semoga dugaan saya tidak benar ada upaya pembakaran apakah dari korporasi atau masyarakat yang melakukan saya tidak bisa sebut karena butuh data pendukung,” kilah Dandim ini.

Faktor lain tambahnya karena fenomena alam namun ini sangat minim terjadi. “Jadi di dalam gambut itu ada rongga bisa saja titik terbakarnya bukan dilokasi lain namun asapnya keluar disana,” tungkasnya.

Kepala BPBD OKI, Listiadi Martin mengungkap hujan yang turun pada Selasa (kemarin) efektif menurutkan titik panas (hot spot) dan titik Api (fire spot) di Kabupaten OKI.

“Data terakhir kami pantau dari 150 hotspot turun drastis jadi 4 titik hari ini,” paparnya. Namun menurut Listiadi mengutif data dari BMKG hujan masih bersifat anomali atau belum permanen.

“Prediksi BMKG hujan turun dalam beberapa hari terakhir, namun belum menandakan musim kemarau telah berakhir.” Untuk itu upaya siaga kita jangan kendor, pinta  Listiadi.

Upaya keroyokan tambahnya tetap dimaksimalkan mengingat status Darurat Dampak Kebakaran Hutan Kebun dan Lahan (Karhutbunlah) masih bersisa 30 hari lagi. “Sejak ditandatangani Bupati Status itu belum dicabut, artinya kita tetap waspada,” tutupnya. (ril/den)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed