Beragam Cara Lakukan Akrobat Politik
PALEMBANG, SuaraSumselNews- Pemungutan suara pemilih untuk menentukan siapa Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel mendatang, tinggal hitungan hari. Masa menjelang hari menentukan itu akan banyak diisi dengan beragam akrobat politik. Semua dilakukan sebagai upaya terakhir agar Pasangan Calon (paslon) yang diusungnya bisa menang.
Namun demikian, perangkat ukur pemilu telah semakin berkembang, sehingga semakin kini, semakin mudah meprediksi siapa yang akan memenangkan kontestasi. Demikian, disampaikan Agusta Surya Buana dari Forum Pemerhati Pilkada Sumsel saat paparan ‘’Peta Kekuatan Jelang Pencoblosan’’ yang disampaikan di Palembang, pekan kemarin.
Agusta Surya Buana menyampaikan setidaknya ada beberapa informasi hasil survei kuantitatif yang berhasil dihimpun lembaganya yakni survei yang dilakukan Konsepindo Reseach and Consulting Jakarta, survei Pusdeham Surabaya dan paling akhir adalah Lembaga Survei Startegi dan taktik (Staratak) Indonesia, kesemuanya menempatkan pasangan Herman Deru-Mawardi Yahya (HDMY) sebagai kontestan dengan elektabilitas tertinggi.
Diakuinya, hampir tak ada lembaga yang merilis survei secara resmi dan menggelar konfrensi pers mengumumkan hasil surveinya. Hal itu menurutnya, kemungkinan karena peta kekuatan tidak berubah dimana Herman Deru – Mawardi Yahya paling tinggi dengan selisih yang jauh dari pasangan Dodi-Giri, kemudian dibawahnya Ishak Mekki dan Aswari.
Agusta menyampaikan, ada beberapa akrobat politik yang dilakukan timses atau pengusung paslon tertentu dengan misalnya mengumbar poling surat kabar, namun metode poling seperti itu, sama sekali tak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. ‘’Itu main-main saja, hiburan. Mungkin, menghibur diri dari peta survei ilmiah yang sesungguhnya,’’ ujar dia.
Ditambahkan Agusta, akrobat poling berbahaya yang akan mencederai demokrasi dan merusak Pilkada Sumsel adalah dimanfaatkannya ajang sosialisasi Asian Games untuk kampanye salah satu paslon. Banyak pihak sudah mengadukan persoalan ini, bahkan hingga ke Kemenpora dan Wapres selaku panitia Asian Games.
Selain itu menurutnya, ada juga muncul di Pilkada Sumsel kasus dimana ada lembaga yang tidak jelas rekam jejaknya. Tetapi menyampaikan temuan survei. Jejak digital lembaga maupun direkturnya tidak bisa didapatkan, apalagi jejak digital survei sebelumnya. ‘’saat itu googling, itu nama lembaga tidak ketemu, direkturnya juga tidak jelas,’’ tanyanya sambil gurau.
Sementara,Oktarina Soebardjo Direktur Lembaga Survei Stratak Indonesia yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut menyampaikan temuan survei lembaganya. Dari sisi elektabilitas tertutup, dimana respondent ditanya dan diberikan alat bantu kertas suara, pasangan HDMY dipilih oleh 43,88 persen. Dodi-Giri dipilih 19,11 persen, Ishak-Yudha dipilih oleh 16,22 persen dan pasangan Aswari-Irwansyah dipilih oleh 10,91 persen. Sementara yang belum memutuskan, sebesar 9,88 persen.
Oktarina menjelaskan, survei dilakukan pada bulan Mei, tepatnya dari tanggal 6-11 Mei 2018. Responden adalah masyarakat Sumsel yang sudah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 820 dengan margin of error sebesar +- 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (tim)



TG中文版是您了解这款功能丰富的消息应用的起点。探索其群组、频道、加密和跨平台特性。