oleh

Ketua DPRD Sumsel Ikut Baca Puisi Luka Rohingya

PALEMBANG, Suara Sumsel News- Keprihatian sastrawan (penyair) terhadap kezaliman militer terhadap orang-orang Rohingya di Rakhine, Myanmar, mendapat perhatian secara psikoligis dari para seniman di Sumsel.

Tak hanya seniman kata-kata saja yang membaca dan menggelar baca puisi dalam peluncuran buku ‘’Luka Kemanusiaan Rohingya’’, Ketua DPRD Sumsel HM Giri Ramanda Kiemas ikut berorasi dan didaulat ikut membaca puisi.

“Saya sangat apresiatif terhadap acara ini. Sebab, selain baru kali pertama digelar di aula DPRD Sumsel, peluncuran buku ini akan mengenalkan saya secara mendalam tentang kesastraan dan kemanusiaan. Apalagi sikap yang tak manusiawi selama bertahun-tahun melanda orang-orang Rohingya itu harus menjadi perhatian kita, termasuk masyarakat dunia,’’ ujar Giri seusai orasi di panggung aula DPRD Sumel, Minggu (10/12).

Menurut Giri, penderitaan masyarakat Rohingya karena kekejaman tentara Myanmar itu bukanlah masalah agama lagi, tapi sudah disusupi oleh ruang politik  untuk mengusir mereka dari tanah kelahirannya sendiri. “Kita tahu, orang-orang Rohingya yang selalu mendapat perlakuan keji itu keturunan Bangladesh. Namun karena garis keturunan mereka terputus, akhirnya anak cucu mereka lahir, hidup dan beranak-pinak di Rakhine, Myanmar,” ujarnya.

Apa salah jika mereka itu harus hidup di Myanmar sebagai penduduk setempat? Menurut Giri tidak salah. Manusia itu berhak hidup di mana saja. Karena Allah SWT menciptakan bumi dan alam yang terkembang ini untuk manusia (semua bangsa).

“Tapi karena Myanmar ini memiliki orang-orang yang lebih dahulu tinggal di sana, paling tidak orang Rohingya harus sowan. Bahkan secara santun, orang Myanmar pun perlu memberikan tenggang rasanya atas kehadiran orang Rohingya di tanah tempat mereka hidup,” katanya.

Sementara itu, Ketua Koaliasi Masyarakat Puisi Palembang, Anwar Putra Bayu, mengatakan gagasan penerbitan buku Luka Kemanusiaan Rohingya ini muncul setelah acara silaturahmi puisi masyarakat sastra di Palembang itu digelar 2 September 2017 lalu.

“Nah, dari pertemuan itulah ada keinginan untuk menerbitkan antologi puisi untuk solidaritas terhadap tragedi kemanusiaan yang dialami warga muslim Rohingya di Myanmar. Kekerasan yang berujung ke sikap genosida atau pembantaian oleh militer Myanmar terhadap Rohingya mendirikan bulu roma masyarakat dunia. Inilah awalnya kita canangkan untuk menulis puisi kemanusiaan bagi masyarakat Rohingya,” tukas Bayu.

Awalnya, buku antologi ini khusus ditujukan bagi penyair Sumatera Selatan. Namun betapa kagetnya, setelah program penulisan itu viral ke masyarakat, para penyair dari luar daerah pun ikut nimbrung untuk diantologikan ke buku tersebut. “Bahkan ada penyair dari Malaysia dan Thailand pun ikut mengirimkan puisi-puisi mereka,” kata Bayu.

Setelah buku ini terbit, puisi yang dapat dihimpun datangnya dari 37 penyair dari berbagai kalangan daerah. Misalnya, penyair Isbedy Setiawan ZS (Lampung), Eddy Pranata PNP (Cilacap), Rini Intana (Tangerang), Jasni Matlani (Sabah, Malaysia), Phaosan (Pattani, Thailand), Hafney Maulana (Riau), Syarifuddin serta penyair-penyair lainnya.

“Tujuan penerbitan antologi ini merupakan kampanye bersama tentang kemanusiaan. Karena itu sangat memungkinkan bagi semua kalangan untuk ikut menyampaikan perasaan dan pikirannya melalui puisi, sebagai satu pesan atau lebih dari itu,” ujarnya.

Seperti yang diungkap penyair Sabah, Malaysia, kata Bayu, dalam baris puisinya “ Aku mengajak Anda berjihad dengan puisi..(Islam dan Rohingya), merupakan semangat untuk menyemangati masyarakat agar bersama-sama memerangi sikap genosida tentara Myanmar tersebut.

“Soal penyeleksian pesan atau puisi, saya tidak melakukannya secara ketat. Apalagi sifat buku ini dijaring dari berbagai kalangan, karena selain itu penulis  yang mengirimkan karyanya tidak banyak. Kalau saja dilakukan penyeleksian cukup ketat, maka banyak penulis yang tidak dapat ikut dalam acara tersebut,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, penyeleksian karya, terutama untuk mereka yang pemula dan berusaha menulis secara sungguh-sungguh, sebagai editor Bayu sangat gembira dan terbantu meski di beberapa hal puisi-puisi itu masih memiliki kelemahan mendasar. (*)

 

Peliput : Anto Narasoma
Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed