oleh

Jangan Benci pada Satu Agama

  • DPRD Ikut Ramaikan Puisi Rohingya

DEWAN Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumsel, sepakat ikut mengembangkan dunia sastra di Sumatera Selatan. Sebab, sastra merupakan bagian dari kehidupan berbudaya di daerah ini.

Ketua DPRD Sumsel, Giri Ramandha N Kiemas, mengatakan sastra tak terlepas dari perilaku hidup masyarakat, karena apa yang ditulis berkisar tentang perilaku masyarakat dan kehidupannya.

”Saya senang sekali jika seniman sastra berusaha setiap saat untuk mengembangkan kesastraan di Sumatera Selatan. Sebab, dari nilai-nilai humanitasnya, tulisan dapat menceritakan segala bentuk perilaku dan kepedulian terhadap sesuatu,’’ ujar Giri Ramandha, di ruang fraksi PDI Perjuangan, kemarin.

Menanggapi permintaan Anwar Putra Bayu agar Giri Ramandha ikut membaca puisi saat peluncuran buku kumpulan puisi ‘’Kemanusiaan bagi Rohingya’’, ketua DPRD Sumsel yang juga ketua DPRD Sumsel langsung menyatakan setuju.

Menurut dia, kehidupan budaya memberi pengetahuan mendasar tentang sikap hidup dengan skala prioritas seseorang yang selalu berkarya dan menciptakan ide-ide bagi kehadiran karya ciptanya.

Karena itu Giri setuju jika peluncuran dan pembacaan puisi ‘’Kemanusiaan bagi Rohingya’’ digelar di gedung DPRD Sumsel pada Minggu (10/12) mendatang. ‘’Wuih, saya setuju jika gagasan itu kita wujudkan di gedung rakyat ini. Nanti kita hadirkan orang-orang pencinta sastra dari berbagai komunitas,’’ tukas Giri sembari menandatangani biaya penyelenggaraan peluncuran buku sastra tersebut.

Menurut dia, komunitas yang paling efektif untuk mengapresiasikan sastra adalah mahasiswa dan pelajar. Karena komunitas ini akan lebih mengedepankan nilai-nilai sastra untuk dijadikan pelajaran. Sastra, katanya,  tidak hanya berbicara tentang ide dan gagasan semata. Tapi refleksinya adalah teknis pemuatan yang berkaitan dengan pemahaman (interpretasi). Interpretasi ini harus melewati pemahaman citraan dan diksi (kata-kata terpilih), sehingga isi puisi dapat segera dijabarkan melalui cara membacanya.

“Saya dulu pernah di teater. Dan, pernah beberapa kali ikut pentas memerankan tokoh yang ada di dalam naskah Mollier, misalnya.  Meski membaca puisi dan memainkan lakon dalam pementasan di panggung kesannya sama, tapi cara membawakan sangat berbeda. Antara puisi dan bermain drama ibarat dua kutub pemahaman yang sangat berbeda,’’ katanya.

Mementaskan seorang tokoh dalam dramatika pementasan,  kata Giri, seorang pemain harus memahami sikap watak dari yang diperaninya. Ia harus ‘menyingkirkan’ watak pribadinya untuk memasukkan ruh tokoh yang ia perankan. Ini tidak mudah.

‘’Sedikitnya,  kita harus lebur ke dalam tokoh yang kita perani. Nah, ini membutuhkan waktu latihan paling sedikit tiga bulan. Sedangkan membaca puisi, yang harus kita ketahui adalah maksud isinya seperti yang digambarkan penyair. Jika kita lebur ke dalam interpretasi secara menyeluruh, sesulit apapun puisi yang kita baca, isi di dalamnya dapat kita sampaikan ke audiens (penonton),’’ ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Pembacaaan Puisi Kemanusiaan buat Rohingya, Anwar Putra Bayu, mengatakan gembira mendapat tanggapan positif dari Ketua DPRD Sumsel, Giri Ramandha N Kiemas.

‘’Tampaknya, Pak Giri  memiliki apreasisi tinggi terhadap pergelaran sastra di Sumatera Selatan. Karena itu kami sangat bersyukur, apalagi ia bersedia mendanai pembacaan puisi Rohingya tersebut,’’ tukas Anwar Putra Bayu kepada Suara Sumsel News, kemarin.

Kumpulan puisi Kemanusiaan bagi Rohingya ini ditulis oleh berbagai penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan penyair dari negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand ikut menyemarakaan nilai kesastraan dalam kupulan puisi itu.

Bayu meminta agar sejumlah komunitas dari berbagai kalangan untuk ikut menyemarakan pembacaan puisi tersebut. ‘’Kapan lagi kita dapat ikut memberikan apresiasi tertinggi untuk puisi ini,’’ katanya.

Mengapa sastrawan Sumsel berani menyorot nilai-nilai kemanusiaan bagi Rohingya yang tertindas di negrinya sendiri, Myanmar? Terlepas dari berbagai prediksi tentang kedukaan hidup Rohingya, kata Bayu, nilai kemanusiaan yang tertindas oleh militer Myamar itu,  layak diangkat dan dibicarakan ke permukaan. Sebab, jangan ada lagi manusia ditindas oleh manusia lain.

‘’Apalagi latar belakang terjadinya miskemanusiaan itu terpicu oleh agama. Ini yang perlu kita luruskan agar tidak berkembang menjadi kebencian terhadap satu agama,’’ katanya. (to)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed