oleh

TNI-Polri Vaksinasi Massal di SU II Palembang

PALEMBANG, SuaraSumselNews | PEMDA, TNI dan Polri di wilayah kecamatan masing-masing mengadakan vaksinasi massal. Bhal irumerupakan  program pemerintah untuk provinsi Sumatera Selatan. Ini semua karena belum mencapai target dan dibutuhkan percepatan vaksinasi yang tersebar dan dilaksanakan serentak 

Juga terkait perintah Kapolrestabes beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bekerjasama dalam rangka melaksanakan vaksinasi masyarakat Sumsel. 

Kapolsek SU II, AKP Handryanto SH mengatakan, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Pemda TNI POLRI  bersama sama melaksanakan vaksin massal di wilayah Kecamatan Seberang Ulu II Palembang. Dimana kuota vaksin di bagi institusi masing-masing, katanya saat kegiatan vaksinasi berlangsung di aula PGRI, Sabtu, (9/10).

Di tambahkan Handry, total Polsek yang ada di Palembang sebanyak 14 Polsek dimana masing-masing Polsek ditargetkan 200 orang per hari yang ikut divaksinasi. “Untuk Seberang Ulu (SU) II kegiatan vaksinasi ini gabungan dari Polsek, Koramil dan Kecamatan yang dibantu oleh Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokes) Polrestabes, Puskesma, Taman Bacaan, Puskesmas Naga Swidak.

“Sebanyak 21 vaksinator untuk warga SU II dan berlaku juga untuk warga diluar wilayah SU II  yang akan melakukan vaksinasi,” ujarnya.

Dan cukup dengan hanya membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) melayani vaksinasi dosis pertama dan dosis kedua. “Khusus hari minggu vaksinasi bertempat di PTC mall,” tegasnya.

Untuk pendaftaran dilakukan secara manual dengan pelayanan satu atap. Kami targetkan satu hari 1000 orang dimulai dari pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB yang dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama dari pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB dan sesi kedua pukul 13.00 WIB – 16.00 WIB,” ujarnya. 

BACA JUGA:  Empat Siswa OKUT Wakili Sumsel Adu Ketangkasan Main Egrang dan Ketape

Untuk seluruh warga SU II khususnya yang belum melaksanakan vaksin, agar segera melaksanakan vaksin di puskesmas atau tempat yang sudah ditentukan. 

“Karena vaksin sangat penting dan berguna untuk ksesehatan, salah satunya mencegah daripada virus covid-19 disamping penerapan 5M. Vaksin inilah yang lebih berpengaruh karena berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan setelah vaksin ini digencarkan angka kematian akibat covid langsung menurun drastis begitu juga dengan angka positif corona,” pungkasnya.

Tak Abai Prokes

Sejak sebulan terakhir, angka kasus Covid19 di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) jauh mengalami penurunan. Bahkan untuk level penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) juga sudah diturunkan hingga level 2.

Kemudian kerumunan juga sudah dianggap hal biasa, seperti acara pernikahan, sedekahkan dan keramaian juga sekarang sudah ramai. Bahkan masyarakat tidak malu-malu lagi menggelar keramaian.

Meskipun pemerintah belum mengumumkan penurunan status pandemi menjadi endemi, tapi masyarakat sudah merasa aman dari virus Covid-19.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumsel dari RSMH Palembang, Zen Ahmad meminta masyarakat dan pemegang kebijakan tetap melakukan pengawasan, seperti memperketat pengawasan supaya tidak kendor.

“Pengawasannya jangan kendor, kalau pengawasannya ketat kan ketat. Jadi kalau pengawasannya kendor, ikut kendor. Yang terpenting sama-sama menyadari, masyarakat menyadari, pemegang kebijakan pun tetap harus melakukan pengawasan, kalau seperti itu aman,” ujar Zen.

BACA JUGA:  KMNU Unsri-MSDI Bina Warga Sungai Rambutan

Zen menilai, penurunan kasus Covid-19 di Bumi Sriwijaya bisa terjadi karena dua kemungkinan, pertama karena pencatatannya turun atau tracingnya yang kurang, karena sebetulnya kasus tersebut masih banyak, tapi tracingnya yang kurang.

“Yang kedua memang sudah terjadi penurunan kasus, apapun sebabnya mungkin dikarenakan oleh vaksinasi, atau sudah banyak yang terkena virus. Sehingga terbentuk kekebalan di tubuh kita,” katanya.

Dirinya berharap, dengan adanya tingkat kekebalan tubuh atau hear immunity kasus Covid-19 di Sumsel terus menurun. Meski begitu, dirinya meminta supaya masyarakat tidak evoria dengan menanggalkan protokol kesehatan, karena virus Covid-19 masih ada dengan mutasi-mutasi dan belum habis.

“Kita harus lihat dulu beberapa bulan ke depan, apakah kita masih terkontrol atau tidak. Kalau nanti beberapa bulan ke depan masih turunnya kasus, terus kasus baru memang turun landai, barulah boleh merdeka sedikit-sedikit. Intinya mesti harus sabar-sabar,” harap Zen.

Namun, jika masyarakat tidak ketat melakukan prokes dan pemangku kebijakan tidak terus melakukan 3T, maka virus Covid-19 akan kembali terjadi peningkatan.

“Jadi kalau kita tidak melakukan prokes tetap saja virus akan meningkat, prokes ini pembebasan harus bertahap, ke mall boleh, ke sekolah boleh dan ketempat wisata boleh. Tapi jarak tetap di atur dan masker tetap dipakai. Itu saja kuncinya.
Tapi kalau sudah kerumunan yang banyak, apalagi tidak pakai masker makan bisa terjadi peningkatan lagi,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Gubernur Apreriasi Suksesnya Pembangunan Desa Suka Maju

Untuk menjaga gelombang ketiga supaya virus tetap landai terus menurun, Zen menjelaskan, hal itu tergantung dengan masyarakat dan pemerintah selaku pemegang kebijakan. Kalau masyarakat tidak evoria, ketempat umum tetap menjalankan standar prokes, seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan di air yang mengalir. Kemudian pemerintah tetap melakukan 3T, mudah-mudahan tidak ada gelombang ketiga.

Tapi, jika gelombang kedua ini tidak berjalan, masyarakat abai dengan merasa tidak ada lagi Covid, kerumunan tidak pakai masker, pemegang kebijakan tidak lagi melakukan 3T, maka besar kemungkinan gelombang ketiga ini kasus akan naik.

“Naik tidaknya kasus Covid-19 ini sangat tergantung dengan masyarakat itu sendiri dan pemerintah selalu pemegang kebijakan. Jadi kita harus menjaga sama sama, baik masyarakat maupun pemegang kebijakan,” ungkapnya.

Dirinya pun berharap, kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia, khususnya Sumsel terus bertambah turun, sehingga bisa dikendalikan. Sedangkan untuk pemerintah harus tetap melakukan 3T, vaksin dan PCR yang ketat, seperti jika ada orang yang terjaring langsung segera di isolasi.

“Jadi itulah penangkal kita, kalau ada kasus bisa dilokalisir di suatu tempat, kalau tidak kita lakukan seperti itu maka dia akan pindah-pindah dan menyebar lagi. Sekarang sudah benar, tinggal dipertahankan saja supaya jangan kendor,” terangnya. (asri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait