oleh

Meski Pandemi, Petani OKI Siap Suplai Beras ‘Serasi’

Panen Raya Sejak Maret Hingga Mei 2020

 

KAYUAGUNG, SuaraSumselNews | MESKI saat ini Provinsi Summer masih berkutat tentang pademi Covid — 19, toh ternyata Bumi Bende Seguguk panen raya terus berlanjut.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal dengan sektor pertaniannya begitu maju. Tak ayal, daerah ini menjadi penyuplai bahan pangan pokok terutama beras untuk memenuhi kebutuhan pangan Sumatera Selatan setiap tahunnya.

Ya saat ini meski dihadapkan pada kondisi pandemi Covid-19, panen raya di OKI tetap berlangsung sejak Maret hingga Mei 2020.

“Alhamdulilah petani kita sudah mulai panen sejak bulan Maret di Kecamatan Air Sugihan dan April ini di Lubuk Seberuk, Lempuing Jaya,” ungkap Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Ketahanan Pangan OKI, Ir. Syahrul, M. Si, Minggu, (12/4).

Kata Sahrul pada puncak panen April 2020 seluas 26.633 ha lahan siap panen. Antara lain di Kecamatan Air Sugihan dan Lempuing Jaya. Panen Raya ini merupakan hasil dari Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi).

“Yang sudah panen areal pasang surut sub optimal, antara lain di Desa Marga Tani Kecamatan Air Sugihan seluas 123 Ha varietas impari 30 dan mekongga dengan produktivitas 5,1 ton/ha. Desa Nusakarta seluas 312 hektar varietas vietnam dan mekongga dengan produktivitas 4,9 ton/ha dan desa suka mulya varietas inpari 32 dan inpari 30 produktivitas 5,3 ton/ha,’ jelasnya.

Petani adalah pahlawan yang menjaga ketahanan pangan saat penduduk dunia menghadapi pandemi COVID-19.
“Saat pekerjaan lain bisa dari rumah, bagi seorang petani tetap harus turun ke sawah. Selain bertanggung jawab kepada kesehatan diri dan keluarga, mereka harus mengurus tanaman dan memastikannya bisa panen,” tutur Syahrul.

Makanya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan protokol penanganan virus corona bagi para petani. Tujuannya gar bisa tetap produksi serta memaksimalkan penggunaan alsintan.

“Dengan mesin combine harvester cukup 6 jam dengan 2 orang saja. Secara biaya, dengan menggunakan mesin combine harvester lebih hemat biaya sampai 50% daripada menggunakan tenaga manusia secara manual” tuturnya. (*)

reporter : den/oca

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed