oleh

Sungsang dengan Fenomena Kehidupan Bersama Nelayan

Menarik Objek Wisata Hutan Nipahnya

 

SUNGSANG, SuaraSumselNews | HIRUK PIKUKNYA pagi itu para pedagang dan pembeli seputar pasar rakyat Desa Sungsang I, Kecamatan Sungsang Kabupaten Banyuasin, menyambut mentari pagi, penuh harapan.

Apalagi situasi kala itu, memang sedikit ramai. Dan memang, saya datang di sini bertepatan dengan akhir pekan. Biasanya, setiap pada akhir pekan pendatang cukup ramai.

Tentunya, para pendatang dari Kota Palembang pergi ke sini untuk membeli ikan, udang, serta produk hasil tangkapan laut langsung kepada nelayan.

Tak terasa menapakkan kaki langkah demi langkah di jalan setapak yang terbuat dari beton, perjalanan saya lakukan sampailah ke Desa Sungsang II, III dan Sungsang IV.

Pagi itu, Sabtu, saya mencari rumah salah satu perangkat desa dan tetua adat, untuk mengenali lebih jauh desa yang pernah dikunjungi oleh para turis dari asal negeri Kangguru itu.

Di sini banyak rumah panggung dibangun dengan menggunakan pohon Nibung sebagai tiang dan berderet disepanjang sisi kiri dan kanan jalan. Ya persis seperti gerbong kereta api.

Dimana sebagian rumah difungsikan rumah untuk tempat tinggal bagi tokoh masyarakat setempat. Sementara yang lainnya menjadi tempat penangkaran sarang burung-burung walet.

Langkah kaki saya di Sabtu pagi itu terhenti di depan sebuah rumah. Ada seorang nelayan yang tengah sibuk menjahit jaring udang, posisinya tepat di Ujung Desa Sungsang IV.

Sebelum menyampaikan niat kedatangan saya kepada tuan rumah, mata saya tertuju kepada sebuah kapal wisata “Belantara”.Rencananya kapal itulah yang akan menjadi alat transportasi guna memperkenalkan objek wisata alam sungai dan laut. Termasuk taman nasional Berbak dan Sembilang.

Pagi itu Belantara terlihat masih terikat pada tiga buah tonggak kayu. Karena kebaikan seorang anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), saya disambut dengan ramah oleh beliau dan langsung diantarkan ke kantor desa untuk bertemu Hadinata, Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Sungsang IV.

Hadinata sempat bertutur cerita kepada saya bahwa di desa setempat sedang melakukan promosi objek wisata berbasis alam berupa hutan nipah, taman nasional.

Tidak mau ketinggalan dari desa lain, desa ini ternyata dikenal akan wisata adat dan budaya sebagai wisata bahari.
Berbagai data dia berikan, sebelum mengakhiri pembicaraan dia memberikan saran agar saya menelusuri gang demi gang, melintasi hutan, sebelum menuju lokasi tempat ikan dilelang.

Dengan ditemani Arfan, seorang perangkat desa, saya berjalan kaki sejauh 3 kilometer menuju ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pembicaraan tanpa jeda kami lakukan, hingga tak terasa keringat sudah membasahi baju kami.

Arfan sempat menunjukkan hutan Nipah yang menghijau mirip hamparan kebun palem.Di antara celah-celah daun telihat buah Nipah dan biasanya bisa dijadikan minuman oleh warga setempat.

Kebutulan saat saya sedang berada di sini air dalam kondisi belum pasang. Para biota disekeliling pohon yang biasa daunnya dijadikan atap oleh warga itu tampak begitu mempesona. Beberapa biodata laut seperti kepiting, belut dan ikan-ikan kecil tampak hidup pada cekungan menyerupai kolam.

“Di sini kita bisa melihat aktifitas jual beli ikan, udang dan kepiting,” kata Arfan sembari mengacungkan jari.

Langkah kaki kami terhenti disebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan ternyata dikelola oleh warga Desa Sungsang IV sendiri. Untuk ikan dan udang segar bisa di beli melalui pengepul di TPI di Desa Sungsang IV.

Pak Toa, (53), seorang pengepul memperlihatkan kepada saya beragam ikan yang baru saja dia dapat dari nelayan. Ada banyak ikan seperti senangin dan sembilang seberat 5 kilogram, seekor belut laut memiliki panjang hampir 1 meter, nior, dan utik.

Sedangkan Yus, (45), seorang pengepul udang memperlihatkan puluhan udang, dan dihargai mulai dari Rp 50.000 hingga 90.000 per ekor dengan panjang maksimal 25,5 centimeter. (*)

laporan ; adeni andriadi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed