oleh

Dari Migas Hingga Keladi Tikus

  • Desa Gajah Mati Raup Keuntungan dari Herbal
  • Medco E&P Indonesia Rimau Angkat Ekonomi Masyarakat

 

MUSI BANYUASIN, SuaraSumselNews | Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia salah satu negara Mega Biodiversity di dunia, karena memiliki tingkat endemisme atau keunikan ekologi tinggi termasuk dalam keaneragaman tumbuhan.

Tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan dengan nilai lebih, tanaman ini bisa diolah menjadi obat, dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat aktif yang berguna untuk pengobatan bisa digolongkan sebagai herbal atau salah satu bentuk pengobatan alternatif.

Di Desa Gajah Mati Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin, disini banyak kita jumpai berbagai macam jenis tanaman yang di budidayakan untuk di jadikan tanaman obat keluarga (toga).

Produksi herbal Pondok Kenanga.

Beranjak dari jauhnya Desa Gajah Mati dari rumah sakit banyak warga desa yang menggunakan obat herbal sebagai alternatif pengganti obat, bahkan banyak warga yang sembuh dengan menggunakan cara pengobatan herbal.

Banyak warga yang menanam toga di pekarangan atau di belakan rumah, walau banyaknya tanaman yang bisa di jadikan obat alternatif, tentunya tidak semudah untuk meracik dan mengembangkannya atau mengelolanya sebagai obat.

Berkat kehadiran PT Medco E&P Indonesia (Rimau/Kaji), perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa pengeboran minyak dan gas bumi, mulai memfasilitasi warga dengan mengajak warga mengikuti pelatihan-pelatihan, memberikan bantuan modal, peralatan produksi serta mengikutsertakan salah satu mitra binaan yakni kelompok Herbal Bersatu Toga Kenanga di pameran dan perlombaan sejak tahun 2011.

Yeni Lusmita (50), Ketua Pondok Herbal Kenanga mengatakan awalnya berdiri pondok Herbal ini berkat binaan PT Medco E&P Indonesia. Pondok herbal ini dirintis  2011 dan tahun 2012 mulai berjalan sampai dengan sekarang dan dikenal masyarakat berkat binaan PT Medco E & P Indonesia.

“Awalnya PT Medco E&P Indonesia membantu bibit tanaman herbal, kemudian alat untuk mengemas obat agar bisa diterima masyarakat dan berkat keuletan dan kerja keras, Pondok Herbal setiap mengikuti kegiatan pameran selalu menang,” ungkapnya Selasa (2/10/2019) di Pondok Herbal Kenanga Desa Gajah Mati.

Yeni mengungkapkan, peluang obat herbal di bawah binaan PT Medco E&P Indonesia sangat menjanjikan, mengingat masyarakat saat ini mulai kembali beralih menggunakan produk alami.

Meraup Keuntungan dari Herbal

Yeni Lusmita

Berkat binaan PT Medco E&P Indonesia sejak dirintis tahun 2011 sampai sekarang, Pondok herbal Kenanga bisa meraup keuntungan hingga 10 juta dalam per bulan dan produksi obat herbal Kenanga sudah banyak di kenal masyarakat luas apalagi dengan kemasan yang tak kalah bersaing dengan obat-obat ternama di Indonesia.

“Saya pikir orang akan beralih ke obat herbal, yang kita produksi. Berkat binaan Medco, kelompok kami memliliki penghasilan kisaran 10 juta perbulan, lumayan dibanding sebelumnya hanya memantang karet di kebun,” ucapnya sembari tersenyum.

Dengan adanya Pondok Herbal Kenanga mendapat respon positif dari pemerintah setempat, selain itu prestasi terus diraih seperti juara 1 lomba pengelolahan tanaman herbal tingkat kabupaten, juara 2 tingkat provinsi pada KTNA (Kontak Tani dan Nelayan) di Sekayu.

“Insya Allah tahun 2020 akan mewakili provinsi di tingkat nasional di Padang,” ungkapnya bangga.

Herbal Angkat Ekonomi Masyarakat

Semua produk obat herbal Toga Kenanga berkhasiat untuk menjaga kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit. Berbagai macam olahan tanaman yang di kembangkan sehingga bisa menjadi obat yang mujarab.

Dibawah binaan PT Medco E&P Indonesia banyak sudah khasiat tanaman yang di kembangkan dan di kemas menjadi produk herbal.

Selain itu ratusan tanaman obat yang dikembangkan Pondok Herbal Kenangan mulai dari tanaman Binahong, Rumput Belang, Kembang Coklat, Semanggi Gunung, Remek Daging, Daun Dewa, Barucina, Kunci Pepet, Daun Mint, Sosor Bebek, Sawi tanah, Buah Makasar, Sirih Merah, Keladi Tikus dan berbagai macam tanaman obat lainnya.

“Alhamdulillah, obat herbal yang diolah masyarakat ini, bukan hanya membuat masyarakat sehat, namun juga mampu menambah perekonomian dan pendapatan masyarakat,” urai Kepala Desa Gajah Mati, Surianak.

Surianak mengaku, dengan adanya dukungan dari PT Medco E&P Indonesia masyarakat desa semakin maju perekonomiannya, apalagi dibantu dalam penyediaan peralatan, hingga pelatihan-pelatihan.

“Sekarang desa kami pun terkenal dengan obat herbal dan dilirik banyak pihak,” jelasnya.

Sulit Memiliki Keturunan Hingga Menetralisir Racun Narkoba

Husbayanti

Mungkin bagi sebagain orang Keladi Tikus atau dalam bahasa latin di sebut Typhonium flagelliforme masih asing di telinga, namun tanaman satu ini sangat berkhasiat untuk berbagai macam penyakit seperti untuk obat koreng, Kanker Payudara, Paru-paru, Usus Besar, ginjal, kanker rahim hingga bisa untuk menetralisir racun narkoba.

Banyak kegunaan keladi tikus dengan diolah dalam bentuk kapsul jadi, selain itu bisa di parut dan di peras dan langsung di minum.

Selain itu manfaat Keladi Tikus bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti sulit mendapatkan keturunan hingga bisa menetralisir racun narkoba.

“Sulit mendapat keturunan bisa dengan cara merebus daun Keladi Tikus dari 5 gelas di jadikan 2 gelas, setelah dingin baru diminum dan dilakukan dengan rutin,” ujar Husbayanti salah satu pengurus Kenanga.

Selain itu Keladi Tikus bisa membantu bagi pecandu narkoba untuk melepaskan racun narkoba. Untuk pengelolaannya tidak bisa sembarangan karena tanaman ini bisa membuat gatal di tangan.

Untuk mengobati pecandu narkoba bisa dilakukan selama tiga minggu hingga satu bulan. “Caranya bisa direbus, bisa di buat seduhan seperti teh dan bisa dengan kapsul,” jelasnya.

Bina Program Toga

Kelompok Program Toga (Tanaman Obat Keluarga ) binaan PT Medco E&P Indonesia yang sudah dibina sejak tahun 2011, dimulai dari teknik pembudidayaan tanaman obat dengan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan dengan menggunakan pupuk yang dibuat sendiri oleh kelompok ibu-ibu di sini termasuk juga pupuk cair.

“Kegiatan ini dimulai dari teknis pembudayaan tanaman obat dengan menggunakan pupuk buatan sendiri,” jelas Community and Hosman Officer PT Medco E&P Indonesia Rimau, Novita Ambarsari.

Menurutnya, kemampuan ibu-ibu ini ditingkatkan tidak hanya sekedar memanfaatkan lahan pekarangan untuk budidaya, tapi juga hasil bisa diolah menjadi beragam produk makanan dan minuman yang berhasiat untuk tubuh dan juga mendatangkan nilai ekonomis bagi pelaku budidaya tanaman obat.

“Dengan keberadaan koperasi ini membantu dalam sisi pengajuan izin pangan rumah tangga sebagai koperasi. Dengan adanya izin maka diperkenankan untuk mengemas minuman herbal menjadi produk yang sudah memenuhi standar dari Dinas kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin, selain pembinaan dalam tanaman herbal,” ungkapnya.

Efek Berganda Hulu Migas

Hadirnya kegiatan hulu migas di suatu wilayah tentunya akan berdampak positif bagi lingkungan sekitar selain itu kontribusi besar untuk memberikan dorongan dalam perkembangan serta pertumbuhan ekonomi di daerah penghasil. Dengan hadirnya hulu migas bisa disebut sebagai pengerak perekonomian di wilayah sekitar.

“Tujuannya field trip ini mengenalkan mitra binaan kita, efek berganda hulu migas yakni salah satunya dengan mitra binaan dan bisa membantu para masyarakat untuk mendapatkan hasil dari latihan-latihan yang kita lakukan,” jelas, Sofian Hadi, Humas SKK Migas disela-sela Media Field Trip di PT Medco E&P Indonesia (Rimau/Kaji). (asri)

 

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed